Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan

6 Juni 2015

HyBryd ti papah



Sekali lagi, kota ini memberi sesuatu untuk dikenang, namun kali ini bukanlah kulinernya, bukanlah suasananya, bukan juga panoramanya. Yang terkenang kali ini adalah pendatang. Pendatang yang bahkan tak ku kenal sebelumnya, kini menjadi terkenang.
Lebih dua tahun sudah, saat aku berjumpa dengannya di depan sebuah kampus negri di kota ini berkat tuntunan seseorang. Usang, ingatan itu sudah semakin using, bagaimana dengan lucunya aku yang lebih muda dipanggilnya “mas”. Siapa yang tak tersipu dipanggil mas, siapa yang tak malu disapa dengan santunnya. Ingatanku tak begitu pasti lagi soal kejadian waktu itu, baju yang dipakainya, bawaan yang dibawanya, yang kuingat adalah tujuannya datang ke kota ini. Akan berjuang masuk ke universitas negri kota ini, begitulah titahnya, aku tak pernah tau jika mungkin dia menyembunyikan niat lain. Niat jalan – jalan mungkin, ya justru sebelum ujian dia mau aku ajak mengelilingi sebagian jalanan kota ini yang juga masih terlalu asing bagiku. Anak mana sih yang datang ke kota ini tanpa ada niat jalan – jalan, tanpa ada niat foto – foto?
Suasana museum yang sepi tepatlah sebagai gambaran suasana diantara kita, aku pendiam dia pun pendiam. Yang mampu mencairkan suasana mungkin kamera yang dibawanya, beberapa kali dia minta difoto oleh amatir sepertiku. Ah, kenapa pertemuan singkat tak sampai sehari bisa begini berbekas, kenapa pertemuan minim pembicaraan ini mampu berkesan? Hanya pertanyaan – pertanyaan tanpa jawaban yang kemudian muncul satu – persatu.

       Dia adalah orang yang baik, beberapa temanku yang mengenalnya pun berkata demikian. Tentu berbalik 180 derajat denganku yang “bandel”. Sepertinya 130 derajat lebih tepat, untukku yang tak begitu bandel. Hahaha. Yah tapi begitulah alam bekerja, begitulah Tuhan menciptakannya. Kutub magnet yang berlawanan akan tarik menarik. Tentu tarik menarik sendiri memiliki banyak presepsi, bisa saling menarik kebencian, bisa juga saling menarik rasa hormat. Semoga dia dapat istiqomah, juga senantiasa bahagia. 
Kamu penasaran dengan dia? Ingin tahu namanya? Ah, bukankah di paragraf ke-2 dan ke-3 aku sudah memampang namanya dengan besar! Layaknya kapital.




Tulisan setengah jadi Januari lalu.  

15 Desember 2014

Terkadang, Impian Membunuh Tuannya

Mimpi. Bolehkah aku menyebut mimpi sebuah “ketidakjelasan” ? Yah, pada faktanya aku tak perlu izinmu untu melakukannya. Daedalus dan anaknya yang terkurung dalam labirin gelap, selalu memimpikan langit yang luas, memimpikan sebuah kebebasan. Dengan usaha yang tidak mudah, mereka membangun sayap mereka, dari bulu – bulu yang mereka “pinjam” dari burung  yang kemudian disatukan dengan lilin. Pada akhirnya mereka dapat bebas, dapat menggapai langit luas yang selalu menjadi impian mereka. Namun apa yang terjadi setelahnya? Ya, Icarus tidaklah puas dengan impian yang telah diraihnya, dia menginginkan sesuatu yang lebih, yang pada akhirnya membuat sayapnya terbakar matahari dan tubuhnya ditelan lautan.
Sumber : Glory of Icarus
Dalam berbagai lukisan maupun puisi, Icarus digambarkan sebagai simbol keberanian, keberanian dalam menyongsong hal baru. Luar biasa, seorang manusia yang mati “dibunuh” oleh mimpinya dijadikan sebuah simbol keberanian. Berminatkah kamu mengikuti jejak Icarus?
Sewaktu aku duduk di bangku kelas 5 Sd, seorang guru bertanya apakah impianku. Kemudian dengan gampangnya aku menjawab, aku ingin jadi aktor. Jawaban yang bisa dibilang ingin mendapatkan kesan keren diantara teman – teman. Atau juga bisa dibilang jawaban yang muncul akibat salah didik oleh para guru, guru yang hanya sekedar menanamkan bahwa impian adalah sebuah profesi. “Kalau udah besar mau jadi apa?” “Jadi polisi ya, biar bisa nangkep banyak penjahat”.
Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah, pelajaran yang dianggap sangat sulit adalah Fisika. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk hebat dalam pelajaran Fisika, aku ingin menjadi ahli di bidang yang banyak orang tak bisa. Aku ingin dianggap hebat oleh teman – temanku, mungkin. Kemudian impianku kian meninggi, bermimpi mendapat medali emas OSN, bakhan olimpiade internasional. Hampir kemanapun aku pergi, aku selalu membawa sebuah buku Fisika dan sebuah pensil. Pada akhirnya mimpi – mimpi itu berguguran, aku hanya mampu juara di kabupaten, tanpa mampu berbuat banyak di profinsi. Aku gagal keren, dan sekarang aku berfikir, saat itu mungkin aku akan terlihat lebih keren kalau sering berbagi ilmu dengan teman – temanku, tak hanya sibuk sendiri, terbang sendiri.

Dunia terus berputar, waktu terus berjalan. Aku masih belum mampu menemukan impianku. Beberapa waktu lalu saat aku membaca komik Yotsubo&! , aku memimpikan menjadi ayah Yotsubo. Yang bekerja hanya dikamar dan menghabiskan sepanjang hari bersama anak tercinta, bersepeda keliling komplek bersama, masak bersama, memancing bersama. Di lain waktu, ketika aku tengah melakukan kerja part-time aku melihat kedai Pie di sebelah tempatku bekerja adalah kedai yang dimiliki sepasang kekasih. Kemudian saat itu aku pun bermimpi ingin memiliki kedai seperti itu,  untuk kemudian menghabiskan seluruh hidupku di kedai itu bersama istriku. Aku yang bagian bar, dia yang bagian cook. Aku membuat minum, dia membuat cupcake. Ah, kenapa aku malah tebar kode begini? Sudahlah namanya juga bermimpi.

 Semoga aku tahu batas kekuatan lilin yang menyatukan sayap – sayapku,aku tak ingin bulu sayapku jatuh berhamburan, aku tak ingin ditelan lautan, aku tak ingin seperti Icarus. 

16 Agustus 2014

Sajak Rindu

Aku merindukanmu
Minggu malam ku terbesit tentangmu
Merah putih kebanggaanmu
Kamu membawaku ke masa lampau
Masa yang putih juga abu abu
Masa putih biru yang terasa haru
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Merindukan mu yang membuatku berdiri malu
Kamu yang membuatku menyanyikan lagu
Berkobar layaknya bandung waktu itu
Syahdu penuh doa untuk Ibu
Dari waktu ke waktu
Kamu membuatku melakukan ritual baru
Membaca perkamen usang dari masa lalu
Perkamen rancangan pemimpin negara baru
Aku lelah saat itu
Berdiri malu bersamamu
Kadang aku membencimu
Aku membencimu
Merenggut awal hari dalam seminggu
Kini
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Meniupkan semangat untuk maju
Membakar api untuk berkumpul menjadi satu
Meniupkan semangat menggebu - gebu
Menghargai orang - orang masa lalu
Aku mulai merindukanmu
Dirimu yang membuatku mencintai sang Ibu
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Kamu tak pernah lagi hadir dalam hari - hariku
Minggu malam tak pernah aku terfikir tentangmu
Kamu tau?
Kini aku hanyalah mahasiswa yang layu
Yang mulai melupakan sang Ibu
Kini dia hanyalah tikus berbaju
Rakus memakan daging sang Ibu
Kini mereka saling beradu
Bengis berebut harta warisan sang Ibu
Membuat Ibu menangis tersedu sedu
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Mengisi setiap senin pagiku

Merayakan setiap ulang tahun Ibu

Aku, Si Peserta Upacara.

4 Agustus 2014

Dimulai dari Nol yaa...

      Kira - kira beberapa hari yang lalu kita semua ditinggalkan, di satu sisi kita merasa sangat bahagia, di satu sisi kesedihan juga melanda. Layaknya kita yang ditinggal pacar karena dia lebih memilih orang lain, sedih pasti, namun disuatu sisi bahagia juga, soalnya beruntung dia belum menjadi Istri. Hahahaha. Kayaknya analogi yang tak pake salah. Yang jelas galau lah. Galau! Ditinggal Ramadhan, namun kedatangan lebaran.

      Tak dipungkiri lagi teknologi memerankan peran penting dalam peristiwa ini, memotong jarak. Mendekatkan yang jauh, menjauh kan yang dekat(?). Ya, teknologi mampu mengikat silaturahmi keluarga - keluarga yang tak mampu untuk bertatap muka, dari sms, telfon, bbm, wa, dsb. Kebetulan aku punya hape yang tergolong menengah, pinter nggak, goblok juga nggak, panggil saja blackberry. Ceritanya si Blackberry ini sampe pingsan pas hari lebaran, dia bukan kebanyakan makan ketupat atau kebanyakan dapet THR, dia cuma kebanyakan dapet BC, iya, dapet banyak tulisan ungu yang dikirim sebagai ungkapan isi hati para penggemar(Ketahuan penulisnya jomblo akut), eh maksudnya ucapan selamat, permohonan maaf, dll.





     Gimana pendapatmu? Kalau aku sih bener - bener nggak minat buat bales pesan yang begituan. Aku kan tipe cowok yang ANTI di-dua-in! :p Hahaha.  Rasanya sia - sia deh BC panjang begitu, tapi dibaca pun nggak Coba deh bandingkan sama yang begini, walau cuma "Mohon maaf lahir batin, Cuuk!"


Ehh. Malah dipalakin. -____-

      Ah, ini udah aku sensor loh, serius! Jomblo nya tak tertolong lagi sepertinya. =D


      Ini (bukan) dari mbak - mbak pom bensin loh.




      Ah, ini simbah gaul, yang umur 20 tampang 120! Leluhur! Perlu dilestarikan...


      Ini nih, si bawel....


      Ini temanku yang bahkan berbeda Agama. :) Indahkan keberagaman?!


      Aku sih ngerasa spesial kalo dapet pesan yang khusus, bukan buat banyak orang! Rasanya tuh lebih dapet feelnya. Tapi ya bagaimanapun yang penting niatnya, niat saling memaafkan, bukan modus! :p

"Mas, Mbak, dimulai dari nol yaa...,"

23 Juli 2014

Mayat !

           

      Sepertinya aku masih ingin menulis, sepertinya aku masih ingin berkarya. Entah suatu kebetulan, atau memang takdir. Saat tubuhku akan mulai membusuk, daging - daging ku mulai rontok, seseorang datang, memberika obat. Mungkin obat ini belum ada dalam dunia kedokteran, obat yang mampu mengembalikan mayat hidup menjadi manusia. Ah, aku tidak paham dengan obat obatan kedokteran yang pahit dan memuakkan itu. Aku hanya paham akan obat yang saat ini tengah berproses mengobati diriku. Lihatlah, tanganku sudah bisa aku kendalikan lagi, lihatlah aku sudah mampu merangkai beberapa huruf menjadi paraghraf yang dapat dimengerti. Ah, lihatlah... aku hampir sembuh. meski belum semua bagian tubuhku kembali seperti semula. 

"Manusia yang hidup tapi tak memiliki mimpi hanyalah mayat yang seolah - olah hidup."



      Dapatkah kamu menduga obat apa yang diberikan oleh temanku? 


Redo

Yang ketika menulis sedang terobsesi Conan!

20 Maret 2014

Smile, Please!




      Yeah, sure. I'll always smile for you, but there'll be a time that i'll be disappear. The time when i see your sweetest smile. Smile of happiness, happiness from deep inside your heart. You must be happy, Fire!

6 November 2013

Tentang Gagak dengan Sayap Patah




Sebuah rambut hitam panjang tersangkut tepat di mukaku. Melintas dari pelipis kiri melingkar melewati hidung dan berakhir di bawah dagu. Dia terbang di terbangkan angin dari kipas angin yang tidak pernah berhenti di ujung kiri kasurku.  Aku tengah tiduran, menekuk kaki di bawah selimut tebal dan kasar pemberian Ibuku. Menggenggam sebuah buku, hanya menggenggam. Tangan kananku justru memainkan tombol – tombol handphone tanpa tujuan jelas. Pikiranku malah tertuju pada hal lain, makanan yang mungkin bisa masuk kedalam tubuhku. Perutku melilit.
Sudah hampir seminggu aku sedikit bergerak, lemas. Beberapa ahli kesehatan yang sering disebut dokter mengatakan bahwa terjadi inveksi di pencernaanku, diare, maag, yang membuatku mual setiap saat. Nasi pindang yang biasanya sangat menggoda iman untuk menyantapnya hanya aku makan beberapa sendok. Sebenarnya tak dapat dipungkiri aku memiliki banyak cadangan energi di tubuhku, aku juga senoat berniat menguranginya. Tapi aku lebih memilih berbaring seharian. Sesekali membaca komik, sesekali melihat – lihat film lama yang tetap menyenangkan untuk dilihat.
Selama masa istirahatku. Ada sebuah kisah yang tidak di filmkan oleh Hollywood, tidak juga di Indonesia. Jadi ceritanya, tidak semua buah yang jatuh ke sungai akan hanyut. Bisa saja ia tenggelam dan tumbuh besar di sebelah pohon induknya. Jadi cerintanya ini tentang buah yang tumbuh menjadi pohon indah itu. Yang kemudian seekor gagak hinggap di pohon itu. Mereka bercengkrama. Pohon mulai bercerita bagaimana keluarganya. Gagak pun mulai menikmati keberadaanya dalam pohon itu. Dia menikmati kenyamanan yang membuatnya merasa cukup akan petualangannya.
Gagak lain datang, dengan bulu yang lebih berkilap, tampang yang lebih sangar dan berwibawa. Gagak pertama mulai terhapus dari memori pohon itu. Mulai menguap dengan sisa – sisa pembakaran fotosintesis. Sayap gagak pertama patah. Dia jatuh kedalam sungai. Tak bisa berenang. Tak bisa bernafas. Tak bisa bangkit. Pohon dan gagak kedua tetap tertawa dan bersenda – gurau menghabiskan setiap detik mereka bersama. Menikmati sunrise dan sunset bersamaan. Gagak pertama yang patah sayapnya hanya mengamati dari tepian, dia diselamatkan arus. Tetapi arus juga yang menjadi musuhnya. Kedinginan menusuk kedalam tulang – tulangnya. Bulunya rontok terbawa air. Gagak malang tak memiliki apapun lagi.
Dia mulai menyerah. Tapi naluri dalam dirinya mengatakan bahwa dia seorang gagak. Gagak itu berjuang melatih kembali sayapnya. Tertatih tapi pasti. Gagak itu melatih hatinya kembali. Melatih keberanian melihat langit luas, melihat luasnya dunia. Sampai pada suatu titik dia memutuskan kembali terbang. Dia tak ingin mengatakan apapun pada pohon itu, biarlah dia bahagia dengan gagak lain itu. Gagak itu memutuskan pergi, tempat indah di dunia ini bukan hanya pohon itu. Gagak itu memutuskan terbang kembali. Menguasai langit. Mengejar mimpinya.
Begitulah ceritanya. Tentang gagak yang pernah patah, tapi memilih menguasai langit kembali.



Sang Gagak, Yang pernah patah.
.

4 Juli 2013

Tiga Hari Absurd Dalam Tulisan Absurd


“KRIIIIING......!!!!”  hampir 3 hari ini setiap jam 7 aku selalu dibuat jengkel alarm. Bukan hanya sebuah, namun 3, 3 alarm! Semua alarm itu juga ku letakkan jauh dari jangkauan, mau tak mau untuk membungkamnya aku harus bangun terlebih dahulu.  Bukan tanpa alasan aku sengaja meletakkan  monster - monster itu di kamarku setiap menjelang tidur. Iya kalau bukan karena alarm itu memainkan peran “antagonis” di pagi hariku, mungkin aku sudah kehilangan banyak pelajaran hebat di pelatihan kepemanduan.

Iya akhir – akhir ini aku sibuk di kepelatihan pemandu, yah intinya sih pelatihan buat menyambut mahasiswa baru nanti. Yah pada faktanya hampir semua materi sudah pernah didapat di training semasa sma dulu. Tapi ada yang sedikit berkesan, ini pertama kalinya ada yang mengenal sekolah ku di UGM. Ketika trainer bertanya tentang alumni sma mana, aku jawab SMART Ekselensia Indonesia. Lalu apa kata dia? “Waaaaah..., saya tau itu,”. Bukan cuma kaget tapi juga takjub, yah meski makna dua kata tadi hampir sama. Coba bayangkan saja aku adalah lulusan ke 4 dari sekolahku, yang bisa dibilang sekolahku adalah sekolah berumur jagung, masih kalah jauh sama sekolah “keren” di kota kota yang UMUR nya sudah hampir 50 tahun lebih. Bahkan ketika pendaftaran UGM aku sedikit kecewa sama ugm, SMA ku tak tercantum dalam database UGM. Sampai sekarang setiap melihat portal akademik yang tertulis di sana adalah SMTA Lain-Lain. Jadi akhirnya waktu itu aku paham kenapa bahkan berkas snmptn undanganku nggak akan dibaca. Sebenarnya aku cukup iri sama anak – anak dari sma “keren” apalagi yang di Jogja, yang bisa “pindah kelas” ke UGM. Tapi kalau ujian tertulis memanglah, tak dapat berbohong kemampuan itu. Sudahlah cerita sedikit tentang sekolah kebanggaanku. Jadi selidik punya selidik trainer tadi adalah salah seorang donatur sekolah, aku jadi makin kagum sama dia.

Yah tapi sebenarnya yang lebih menginspirasi adalah sebuah video tentang iklan asuransi buatan thailand yang diputar dalam training itu. Video tentang seorang wanita yang di vonis menderita kanker dan hidupnya hanya tinggal 2 tahun lagi. Pertanyaanya adalah apa yang akan kita lakukan jika kita yang mengalami hal itu? Berfoya – foya menikmati sisa hidup atau justru depresi? Aku lupa nama nama tokoh dalam video itu, tapi aku ingat dia berusaha membesarkan 3 anak yang semuanya memiliki kekurangan masing masing. Yang dia lakukan adalah memberikan sebuah “arti” dari hidup 3 anak yang dia besarkan.



“ A worthy life is a life that could give another life a means,”


Mungkin itulah kata – kata yang sangat memberikanku sebuah motivasi. Yah kalau penulisannya salah itu 100% kesalahan ku yang tidak bisa bahasa inggris. Jadi dari training inilah aku menemukan LTO ku, menemukan orientasi jangka panjangku. Mencoba memberi makna hidup orang lain, jangan tertawa! Iya memang bahkan hidupku pun belum bermakna. Tapi bagaimana kalau memang makna dari hidupku adalah untuk memberikan makna bagi hidup orang lain? Yasudahlah, bahkan baut paling berkarat dari sebuah mesin tetaplah memberikan makna bagi mesin itu. Biarlah aku baut berkarat bagi Indonesia, aku akan berusaha memberi makna hingga saatnya baut lain memberikan makna yang lebih baik. 


27 Mei 2013

Ketika si Petualang Merindukan Petualang Lainnya (edit).



     Jogja tengah menangis, seolah-olah dia bisa membaca isi hatiku. Matahari sudah sejak tadi pundung dan pulang ke peraduanya. Sedangkan si rembulan justru bangun kesiangan, sehingga belum muncul hingga saat ini. Kosong. Jogja benar - benar terasa kosong. Aku sendiri malas untuk bergerak, menyimpan kalori, atau memang aku malas. Jogja tak semenarik biasanya. Setiap tempat yang aku kunjungi selalu memberikan sebuah efek "ngenes" dan sebuah pementasan buram, layaknya film jadul tapi aku yang ada di dalamnya, bersama seorang gadis.

     Iya, gadis itu pergi meninggalkan Jogja Jumat kemarin. Dia bilang dia bukan "pulang" ke Pekanbaru, tapi "pergi" ke Pekanbaru, karena dia beranggapan Jogja adalah rumahnya. Ya, gadis mungil itu sejak kecil sudah bermimpi untuk bisa ke Jogja, dia bahkan selalu bercerita tentang betapa spesialnya Jogja bagi dia, bahkan aku yang sudah hampir 1 tahun di Jogja justru banyak bertanya tentang Jogja padanya. Sebenarnya aku cemburu, cemburu pada Jogja. Gadis yang dari kecil sampai sekarang sangat suka tempe ini bahkan bilang Malioboro adalah jalan yang wajib dilewati setiap hari.

     Aku tidaklah asal tulis tentang dia. Dia adalah "musuh" masa kecilku. Iya, dia adalah musuhku di taman kanak-kanak hingga SD. Tiada hari tanpa percekcokan bagi kami, aku biang ribut di kelas, sedangkan dia si pencatat yang ribut di kelas. Dia adalah murid kebanggaan dan kepercayaan para guru, aku? ya, aku adalah murid yang selalu bisa membuat para guru naik darah. Dia gadis yang cerdas, jago Bahasa Inggris, jago menulis, dia bisa di banyak hal waktu itu. Dia adalah primadona sekolah.

     Waktu berjalan dengan sendirinya. Dia tumbuh menjadi gadis yang penakut. Dia mengarungi waktu dengan ketakutan akan masa lalu. Dia tak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Kalau ibarat buah yang jatuh dari pohonnya, dia secara kebetulan jatuh di sungai yang salah, sungai deras yang membawanya ketempat - tempat yang menakutkan, tapi dia bukannya menjadi berani dia justru semakin terbebani dengan masa lalunya itu. Dia takut untuk melawan arus sungai itu. Seorang trainer pernah berkata padaku bahwa jika ingin sukses kita harus melepaskan semua beban dimasa lalu, sehingga kita bisa dengan mudah terbang menggapai mimpi kita.

     Akan tetapi apa yang si petualang penakut itu lakukan padaku? Dia menanamkan keberanian dalam diriku. Dia mampu membuatku berani mengarungi jalan-jalan yang belum pernah kulewati seblumnya. Dia mengajakku hanyut dalam sungainya. Aku menikmati setiap pelayaranku dengannya, mengunjungi tempat-tempat baru dalam hidupku, bertemu wajah-wajah baru yang luar biasa. Dia (pernah) menjadikanku sempurna. Pada akhirnya aku tahu bahwa Jogja akan tetap menjadi tempat yang spesial baginya, tapi Jogja bukanlah tempat yang spesial tanpanya. Jadi untuknya aku berkata, terimakasih membuat Jogja terasa spesial.


Yang pernah selalu menunggumu di Jogja.

8 Mei 2013

Konspirasi Dibalik Buku, Cokelat, dan Gelas.



Sebenarnya kalau dibilang pengangguran juga tidak tepat karena aku punya banyak tugas dan pekerjaan, tetapi memang ya aku saja yang membawanya dengan santai. Karena menurut orang yang aku kagumi, kita akan mampu berbuat maksimal saat apa yang kita lakukan kita sukai. Betul kan? Yah setiap pribadi pasti punya sebuah ideologi masing–masing. Malam ini pun sebenarnya aku masih punya tanggungan sebuah laporan, tapi aku lebih memilih main Criminal Case ditemani segelas kopi di dalam gelas baru.

Iya, gelas bergambar 2 buah ikan yang aku sendiri tak dapat membedakan jenis kelamin mereka, tapi aku tau bahwa mereka adalah simbol dari 12 zodiak yang ada, Pisces. Gelas itu adalah hadiah ulang tahunku yang ke 18 dari keluargaku di Departemen Sosial BEM KM FMIPA UGM. Sebuah keluarga kecil tempatku berbagi tawa. Sebenarnya sudah hampir lewat 3 bulan dari hari ulang tahunku, tapi mereka masih saja ingat dan merayakannya, bisa dibilang ini adalah tiup lilin pertama dalam hidupku. Hahaha.

Sebenarnya aku menerima 3 buah kado di tahun ini, sebuah buku, coklat dan gelas. Betapa sebuah kolaborasi yang indah, bukan? Aku bukan detektif yang terlalu banyak bertanya, tapi aku sedikit curiga pada Tuhan dengan kado–kado ini. Memang kalau ditelisik lebih dalam kado ini berhubungan. Tuhan memintaku membaca buku penuh motivasi itu sambil sesekali memakan coklat dan meminum sesuatu dari gelas itu. Ahahaha benar–benar indah bukan rencana Tuhan? Mungkin aku benar–benar akan menikmatinya jika kado itu datang bersamaan. Tapi kenyataannya buku datang di bulan Maret, coklat di bulan April, dan gelas di bulan Mei. Hahaha semoga memang sebuah rencana besar yang bahagia tengah Tuhan bangun untukku.

Tidak perlu lagi memikirkan konspirasi buku-coklat-gelas. Aku hanya ingin berterimakasih pada semua elemen yang telah berperan dalam drama kehidupanku. Peran baik ataupun buruk tetaplah memberikanku sebuah pelajaran. Tapi khusus di hari yang sudah lewat lama dari hari ulang tahunku ini aku ingin berterimakasih pada yang telah mendoakan dan memberiku kado–kado indah, Cinnamon, Hani, dan teman teman sosial. Semoga kebahagiaan selalu menaungi kita semua. Mungkin di lain waktu aku yang akan membahagiakan kalian. Yah tentu saja aku tak akan bisa menjabat tanganku sendiri ketika berjalan di taman bunga yang luas. Aku perlu tangan lain yang lebih feminim, aku masih berharap dan menantinya.  

                                                                                                                     Yogya, 7 Mei 2013

20 Maret 2013

Best gift in 18th



Sudut matanya sempit, menggambarkan dengan jelas bahwa dia memiliki darah Asia. Kulitnya jernih layaknya orang–orang cina lainya. Wajahnya cantik, cantik yang menentramkan hati. Dia juga sudah sangat dewasa dalam usianya. Ini bukanlah kisah asmaraku. Ini adalah tentang gadis mungil yang kutemui di kelas Kemipaan-10, gadis manis yang semanis kayu manis.
Tak banyak yang kuketahui dari dirinya. Aku ada di barisan belakang bangku kuliah, sedangkan dia ada di baris depan bangku kuliah. Dia rajin mencatat, dan aku malas mencatat. Wajar kalau dia kebanjiran nilai A dan aku kebanjiran nilai B atau malah C. Dia adalah orang yang paling sabar se-MIPA, hehe. Aku tidak tau harus mengungkapkannya bagaimana. Tapi dia adalah korban kejahilanku. Mau di dunia nyata ataupun di dunia maya aku selalu saja menggodanya. Alasan? Terkadang tak perlu alasan untuk melakukan sesuatu, bukan?
Awal pertemuanku denganya bukanlah pertemuan yang spesial layaknya pertemuan pertama antara Hawa dan Adam. Aku yang waktu itu memang sok kenal langsung cap cis cus mengajak ngobrol dia. Meski ketika aku meminta nomor HPnya tidak diberi >.< tapi itu bukanlah masalah. Lama kelamaan kita semakin dekat, dan aku pun kadang–kadang semakin jahil, dan dia pun sepertinya sudah semakin sabar. Kadang–kadang kita juga berbagi sedikit cerita soal nilai, keluarga, teman, bahkan asmara.
Apa yang membuat si Pemalas seperti aku mau membuang banyak kalori untuk menggerakan jari–jari, merangkai huruf–huruf agar sedikit memiliki makna, hanya demi menggambarkan sosok dirinya?
9 Summers 10 Autumns: Dari kota Apel ke The Big Apple.
Adalah kado ulang tahunku yang ke-18 darinya. Jujur selama hidupku jumlah kado yang aku terima masihlah dapat dihitung dengan jari. Merayakan ulang tahun? Jangankan untuk beli kue tar, beli beras buat besok saja harus mikir dulu. Ya, hidupku tak semewah kebanyakan orang. Hidupku sederhana tapi penuh warna. Aku tau rasanya lapar, aku tau rasanya kenyang. Aku tau rasanya lelah bekerja, aku tau rasanya nikmat tidur setelah bekerja.
Aku tak pernah berharap mendapat kado mewah, aku paham betul siapa diriku. Tapi apa yang dia berikan padaku? Sebuah buku penuh inspirasi pembangkit motivasi. Dia berdalih agar aku punya semangat untuk meraih mimpiku. Tapi sekali lagi aku paham siapa diriku, manusia biasa bertabur dosa. Tapi sekali lagi, tahukah kalian apa yang TUHAN berikan padaku? Ya, tuhan memberiku seorang teman, tuhan memberiku kado terbaik di usia 18 tahunku, si Kayu Manis.
Yogyakarta,
Di tanggal yang sudah lewat dari hari ulang tahunku.