4 Maret 2017

Sebuah Seni Tingkat Tinggi

Memasak adalah sebuah seni tingkat tinggi yang dapat mengkonversi cinta menjadi bentuk yang dapat dinikmati secara kasat mata. Dan kita semua telah tahu,  apa sih yang dibubuhi dengan cinta dan tak berubah menjadi lebih indah dan nikmat? Sebuah susunan kayu, pasir, tanah, busa, dan berbagai elemen lain yang dibubuhi dengan cinta, maka jadilah rumah. Namun, hal ini juga lah yang menyebabkan mustahil lahir masakan enak dari orang yang tidak mencintai masakan, ataupun memasak. Akan cukup sulit bagi orang yang lebih suka kulitnya putih dan terlihat cantik dan membenci panasnya dapur  untuk membuat masakan yang mampu membahagiakan bagi yang memakannya.

Akan tetapi memang terkadang cinta saja tak cukup untuk membuat sebuah masakan enak untuk setiap orang, karena mustahil menciptakan sebuah masakan yang disukai setiap manusia! Simbah ku yang sudah sedari jaman Indonesia masih dijajah jepang makannya hanya daun singkong dan tempe, ketika ku bawakan oleh – oleh Maccaroni n Cheese beliau lebih memilih berhenti memakan setelah gigitan pertama. Beberapa teman ku yang berasal dari Sumatera ketika tengah bermain ke Jogja dan ku ajak menikmati Gudeg Jogja, mereka berujar “Nggak suka aku, Do. Enek, terlalu manis,” sembari menggoyangkan seluruh badan. Akan tetapi memang begitulah hidup, berusaha membuat setiap orang bahagia dengan apa yang kita lakukan itu setara dengan membuat hujan turun ke langi. Bagaimanapun aku berusaha mengemas, membungkus, dan mempercantik sebuah tindakan, beberapa orang memang ditakdirkan untuk membenci, beberapa orang diciptakan dengan lidah yang berbeda.
Sumber

Bahkan masakan yang sesuai dengan lidah kita, yang dimasak dengan penuh cinta dan perhatian yang hanya ditujukan untuk kita pun terkadang kita menolak untuk memakannya. Berkilah dengan berbagai alasan beberapa dari kita lebih memilih pergi ke beberapa restoran “hitz” ketimbang menikmati semangkuk cinta buatan Ibu. Kita ini memang suka bertindak bodoh –kok kayak tulisan sebelumnya- tak menyadari sesuatu itu berharga hingga sesuatu itu hilang dari kita, adakah yang lebih indah dari semangkuk cinta yang penuh seni dan perhatian karya Ibu di pagi hari? Nikmatilah, nikmatilah, sebelum Tuhan meminta Ibu kita berkarya di surga sana, nikmatilah…


28 Februari 2017

Manusia Bodoh!

Adakalanya manusia berlaku bodoh. Adakalanya manusia yang ketika hujan turun memilih menarik selimut, memejamkan mata sembari mengutuk & menyumpahi hujan di dalam hatinya, namun ketika hujan pergi dan tak kunjung kembali, dia berujar “Ah…, kemanakah engkau sang hujan? Tak sadarkah engkau aku di sini memendam rindu?”. Begitulah manusia, adakalanya berlaku bodoh! Menyianyiakan pendamping hidup yang baik -pacar-, memilih untuk mengacuhkan, hingga akhirnya dia pergi, dan ketika itu terjadi, barulah dia tersadar betapa dia merindukan dia, yang kini telah menjadi mantan.
Sumber

Akhir – akhir ini akupun demikian, berlaku bodoh! Kamu tahu, aku menyukai sebuah klub sepakbola di Jerman sana, sebut saja Bayern Munchen. Dan akhir – akhir ini juga permainan bola dari klub favoritku ini begitu membosankan, minim goal dan minim kreativitas. Dan dalam hati aku mulai berujar, “Ah, padahal pas dilatih Pep, Bayern begitu menyenangkan dilihat, begitu menarik, kalau saja Pep bertahan,”. Padahal ketika aku melihat ke belakang sejenak ke masa ketika Pep masihlah kepala pelatih Bayern, kerap kali aku justru memaki Pep akan keputusannya yang terkadang sulit dipahami dan terkesan bodoh. Beberapa kali aku pun sempat berkicau dengan hastag PepOut, namun ketika dia telah pergi, hati merindu, mata merindu sepakbola berkualitas. Ah, aku ini, manusia bodoh.


Pada akhirnya nasi telah menjadi bubur, kalau begitu mari tambahkan suwiran ayam, bawang goreng, kuah kaldu, dan kerupuk. Karena pada akhirnya Pep tak akan kembali lagi dalam waktu dekat, maka mari berharap saja Ancelotti menambahkan sejimpit msg pada buburnya yang tawar, sehingga kita mampu berada dalam satu pemahaman, sehingga aku bisa dengan tenang melepas sang mantan, sehingga aku berhenti bodoh. 


17 Februari 2017

Seloyang Brownies Untukmu


Kamu tahu? Aku terjatuh. Aku terhempas ke dasar jurang. Terlebih lagi jatuh ini tak sekedar jatuh biasa, aku dijunjung -diangkat- terlebih dahulu ke langit ke tujuh, barulah kemudian dihempaskan, dilemparkan, secara sengaja. Aku yang tengah di bawah, tenggelam dalam kegelapan, aku menyadari bahwa di bawah sini tak ada siapapun. Tak ada yang mengulurkan tali mengangkatku, tak ada mengajakku kembali ke cahaya. Aku bahkan mulai berhenti meminta pada Tuhan, aku berfikir takdirnya terlalu kejam.  Aku menutup hatiku pada dunia, aku menutup pintu rumahku pada semuanya….
Sumber
Aku merangkak, sendirian. Memanjat, mencoba menggenggam kembali apa yang kumiliki dulu. Namun, semua telah berubah, ada yang membusuk, ada yang mati. Sayapku membusuk, api semangatku mati. Kemudian aku memutuskan, untuk meninggalkan yang membusuk dan mati, aku mencoba berjalan dengan segala yang tersisa.
Karena itulah, aku sempat meninggalkan halaman gosong ini, tahan seberapa lama sih brownies ditinggalkan tak diurus? Aku yakin jamur akan bertebaran dimana – mana, bahkan tak akan ada lagi yang tersisa.
Namun ternyata, brownies gosong yang tak pernah dibuat lagi ini masih ada beberapa orang yang setia mencarinya, merindukan brownies sebagai cemilan tak sehatnya. Ah, aku memang cerdas mendramatisir sesuatu, Bukan? Aku terjatuh? Sayapku membusuk? Hah! Zainuddin saja sanggup, kenapa aku tidak? Ah! Kalau tak bisa terbang cukuplah berjalan, memang memakan waktu lebih lama, tapi setidaknya pada akhirnya aku bisa tiba di sana.

Maaf, sudah lama aku tak memanggang brownies, sudah lama jariku tidak mengaduk huruf menyusunnya menjadi cerita. Tapi sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu, nasi yang menjadi bubur tak seburuk itu rasanya, nikmat bila disantap di pagi hari. Ah, kemarilah kawan, aku punya seloyang brownies dan segelas teh hangat di meja ini, mari nikmati senja ini di halaman rumahku.

14 Februari 2017

Kedamaian Yang Kau Cari Itu, Ada Di Ujung Tembok Cina!


Di dataran Asia yang  terhampar mendekati bekas negara adidaya, Uni Soviet sana, berdiri kokoh sebuah keajaiban dunia, warisan leluhur yang hingga saat ini masih saja mengundang decak kagum jutaaaan mahluk, sebut saja itu Tembok Besar Cina. Tak sekedar pajangan, bukan pula sebuah pamer kekuasaan dari sebuah dinasti, namun tembok itu bermakna lebih, tembok itu membawa harapan jutaan rakyat kerajaan kuno Cina. Harapan itu adalah keselamatan, apalagi yang lebih indah dari “rasa aman” di tengah peperangan kerajaan Cina dan suku Nomad? Cukuplah aku berbicara batuan cokelat tempat tergantungnya harapan rakyat cina waktu itu. Aku tak mencintainya, aku hanya terkagum dengannya, dengan mereka.

Lebih dari 8000km batuan tersusun rapi membentang disepanjang Cina, tiga generasi “dinasti” secara sambut - menyambut menggarap “proyek” arsitektur besar kala itu, Qin, Han, dan Ming. Akan tetapi yang membuatku terkagum bukanlah seberapa besar ataupun panjangnya, aku bukanlah seorang gadis. Yang membuatku terkagum adalah konsistensinya! Kita semua tahu, memulai sesuatu itu sangatlah mudah, yang sulit adalah menjaga konsistensinya. Tembok besar Cina tak akan semegah saat ini tanpa konsistensi dari rakyat Cina, tak sekedar pemimpin yang berganti, dinasti pun berganti. Lihat saja “Candi” Hambalang yang berada di negri kita ini, yang dibangun tanpa konsistensi namun penuh konspirasi itu! Begitu berganti kepala, proyek berhenti, “candi” terbengkalai.

Sumber
Konsistensi adalah hal yang sangat sulit untuk dicapai, beberapa waktu lalu aku sempat berusaha menulis sebuah kisah bersambung tentang detektif, memulainya begitu menyenangkan. Mencari nama, menggambarkan karekter, memilih lokasi, mencari materi, Ah! Semua begitu menegangkan, bahkan bagaimana kisah ini akan kuakhiri pun telah terlintas di kepala, namun bahkan ketika prologue belum usai tertuang di kertas, motivasi yang sempat menggebu itu lenyap, layaknya mesin 2 tak.

Aku lelaki yang punya banyak mimpi, namun aku juga hanyalah segumpal lemak yang sangat pemalas. Ah! Masih ada besok, Budiharja tak akan lari kemana walau kisahnya tak kutuliskan, tak akan ada gadis yang menyukainya, bahkan belum ada yang mengenalnya karena dia barulah tokoh dalam beberapa lembar hvs. Sempat pula kawan lama hadir mengajak untuk sebuah kolaborasi tulisan, “Terlalu banyak kisah indah di asrama yang sayang apabila tidak diceritakan pada mereka di luar sana, Teman” katanya. Namun obrolan hanyalah sebatas obrolan, sekali lagi bahan bakar habis ketika baru berjalan 5 meter dari garis start. Ah, aku ingin menggapai beberapa mimpiku Tuhan. Aku ingin ini, aku ingin itu, aku ingin segalanya, Tuhan.  Sehingga aku bisa memakan sarapan buatan Ibuku tanpa harus memikirkan apapun, absolute peace.

Baiklah… Mari kita mulai… perjalanan mencari kedaimaian ini.

25 April 2016

Gintama : Menangis atau Tertawa?


Pernahkah kamu tertawa ketika tengah menangis? Pernahkah kamu meneteskan air mata ketika sedang tertawa? Jika belum, dan ingin merasakannya, cobalah luangkan waktumu untuk menonton Gintama. Sebuah mahakarya dari penulis(Mangaka sebenarnya) hebat bernama Sorachi Hideaki, seorang Gorilla yang mampu mengemas sebuah TRAGEDI, menjadi  komedi.
Anime ini berkisah tentang kehidupan setelah perang besar di jaman Edo, perang antara para samurai dan penjajah(Amanto). Namun karena perbedaan teknologi dalam perang, memaksa Jepang untuk tunduk pada para penjajah. Perangpun usai, dan apa yang diambil oleh penjajah itu tampaklah tidak besar, hanyalah pedang. Namun apa yang akan terjadi ketika sebuah Negara samurai tapi tidak memiliki pedang? Dimana pedang adalah jiwa dari samurai? Ya, itu artinya adalah akhir dari era samurai. Akhir dari hidup para samurai yang tak lagi memiliki tuan, tak lagi memiliki sesuatu untuk dilindungi, tak lagi memiliki sebuah Bushido.
Namun ternyata samurai tak semuanya selemah itu, ternyata tak semua samurai bertarung demi negaranya, tak semua samurai telah kehilangan bushidonya. Shiroyasha, Sakata Gintoki, samurai dengan masalalu yang kelam, nyatanya tak pernah berubah walau jaman telah berubah, jiwanya tetaplah perak, silver soul, Gintama. Bersama dengan Kagura, Shinpachi, dan Sadaharu mereka mendirikan sebuah pekerjaan serba bisa, Yorozuya, untuk dapat bertahan di era dimana pekerjaan susah dicari. Mereka tetaplah menjadi samurai bagi diri mereka sendiri.

Cerita ini berfokus pada Sakata Gintoki, yang sejak kecil sudah menjadi yatim piatu, terpaksa mencuri makanan dari prajurit perang demi bertahan hidup, sampai akhirnya dia bertemu dengan guru yang mengajarinya berpedang, yang mengajarinya cara untuk hidup, Yoshida Shouyo. Namun romantisme Gintoki dan Shouyo tak berlangsung lama, Negara(yang telah diambil alih oleh Amanto) menganggap Shouyo adalah pemberontak, dan menangkapnya.

Disanalah semua berawal, teman – teman gintoki berusaha menyelamatkan guru mereka, Takasugi, Katsura, dkk terjun ke dalam perang. Gintoki yang sudah berjanji pada Shouyo untuk melindungi teman – temannya pun ikut pergi ke medan perang. Namun naas, dengan harapan mengambil sesuatu dari perang, mereka justru kehilangan banyak hal, teman – teman, dan gurunya sendiri. Lebih memerihkan lagi di hati adalah karena, Gintoki sendirilah yang harus membunuh gurunya yang amat dicintainya itu, demi menyelamatkan teman – temannya. Dialah yang harus menanggung dosa itu, Dialah yang pada akhirnya dibenci teman- temannya. Dia yang awalnya ingin melindungi teman – temannya dan gurunya, nyatanya justru kehilangan semuanya. Dialah samurai yang kehilangan segalanya, dialah Sakata Gintoki.
Apakah itu belum cukup menjadi tragedi bagimu? Karena di dalam anime ini banyak sekali tragedy tragedi lain, seperti kisah cinta mengharukan antara pelacur dan ajudan Shogun, seperti kisah cinta menyedihkan antara mahluk mutan yang tidak lain dalah Ibu Kagura dan Ayahnya, seperti kisah seorang adik yang harus membunuh kakaknya, seperti kisah seorang anak yang berusah mengusai kota hanya demi agar ayahnya kembali. Namun sekali lagi aku katakan, tragedy itu terkemas dalam komedi, yang akan membuatmu menangis ketika tengah tertawa, dan membuatmu tertawa ketika tengah menangis.
“Aku membenci rembulan, saat malam dia menuntunmu padakau, namun dia juga yang mengambilmu dariku saat fajar, aku berharap rembulan tak pernah tenggelam, lalu kau akan selalu berada di sini bersamaku,”
“Rembulan akan kembali bersama hadirnya malam, dan suatu saat ketika itu terjadi, aku akan membawamu pergi dari sini ketika fajar, tunggulah aku dimalam purnama selanjutnya di bawah pohon bunga sakura yang bermekaran,”
“Kau harus berjanji pakau ya!”
“Janji”
Namun puluhan tahun berlalu, rambut pelacur itu mulai memutih, tangan lelaki itu pun telah terpotong, purnama itu belum juga kunjung tiba, sakura itu belum bermekaran.
“Kamu akhirnya datang, Kekasih. Bulan purnama terakhir ini telah membawamu padaku. Namun maafkan aku, baik aku maupun sakura ini telah layu dalam penantian ini,”
“Apa yang kamu katakan? Baik itu kamu maupun sakura ini, tak pernah layu,”
“Apakah ini mimpi?”
“Tenang saja, meskipun ini mimpi, kamu tak akan pernah terbangun dari mimpi ini, karena purnama ini tak akan pernah tenggelam, kita akan selalu bersama,”

Percakapan di atas adalah salah satu cuplikan Arc favoritku. Ya, bagiku yang menyukai keindahan kata – kata, kemampuan Sorachi Hideaki dalam memilih kalimat sangatlah luar biasa, ini memang anime pertarungan, namun pertarungan ini indah, menawan, tak seperti pertarungan kekanak – kanakan anime lain. Dan yang lebih membuat ini indah adalah, anime ini terasa nyata!
Setiap tokoh dalam anime ini memiliki kekurangan, dari pemalas, stalker, saddist, hentai, penggila manisan, penggila mayones, dan sebagainya. Karena memang begitulah hakikat manusia, memiliki kekurangan sehingga dapat seling melengkapi dengan orang lain. Tidak lah seperti tokoh anime lain yang terlihat sempurna, yang selalu berkata “AKU LEBIH BAIK MATI! DARIPADA MENGHIANATI TEMANKU!” . Tokoh – tokoh anime di Gintama justru berusaha menjatuhkan satu – sama lain, tapi begitulah teman dekat, begitulah mereka menunjukkan cinta mereka.
Percayalah, tidak akan menyesal engkau menghabiskan waktu menikmati kisah ini, 316 episode dan 581 chapter memang terlihat banyak, namun ketika dirimu sudah hanyut sepertiku, justru akan semakin menyenangkan ketika masih ada 1000 episode lagi, masih ada 100.000 episode lagi. Karena pada faktanya kini aku begitu merindukan Gintama yang tengah hiatus, lebih merindukannya daripada mantan – mantanku. Hahaha.

Tapi hati – hatilah, kamu akan tertawa ketika menangis, dan menangis ketika tengah tertawa. Begitulah Gintama menyebarkan kebahagiaan. 

Redo







6 April 2016

Fniir Cywefanr!

Aqnw fnvy,

Mqjnbne tjnvd enftv. Mqjnbne nenm hqfyatinv rnvd eqjnf hnbt gnjnvy mqjnbn yvy. Mqjnbne hnwqvn mqbtn cnyh – cnyh mngn, anv nhnv mqjnjt cnyh – cnyh mngn.
Mqbudn  hnbt cymn mqjnjt cnfndyn, mqeyni mnne, aymqeyni huvaymy. Mqbudn hnbt bqvgnay mqbnhyv htne anv bnbit bqvqwenlnhnv bnmnjnf rnvd aenvd. Mqbudn hnbt etbctf bqvgnay lvyen mtiqw.
“Swyqvamfyi bnwhm n jysq qxqv buwq aqqijr efnv juvq. Juxq wymhm  aqdqvqwneyvd yveu ucmqmmyun, swyqvmfyi vqxqw nvrefyvd cte mfnwyvd”


Sumber
Eqwybnhnmyf ejnf bnt cqwethnw hnau. Eqwybnhnmyf tveth enlnbt rnvd bqvrqdnwhnv fney. Eqwybnhnmyf tveth wnbnfbbt, tveth iqatjybbt, tveth mqvrtbbt, tveth mqdnjnvrn. Eqwybnhnmyf eqjnf bqvgnay eqbnvht, eqwybnhnmyf eqjnf bqvgnay Fnvysnf Alyrnvey.



Wqau

3 April 2016

Pengecut yang Kecut!



Aku adalah pengecut cinta, pengecut yang sempat benjut karena jatuh oleh cinta. Ah, bebrapa saat aku pernah berfikir, jatuh tak seburuk itu nampaknya, semilir angin ini membuatku serasa hanyut di dalam kabut. AH! Jatuh tak seburuk itu nampaknya teman! Tak seburuk itu, sampai tulang-tulangmu merasakan kerasnya keriput – keriput aspal itu, perih di ujung jari, remuk diseluruh sanubari.
Ah! Aku ini pengecut cinta. Yang ingin dicinta, tapi tak ingin terjatuh lagi.
Ah! Aku ini pengecut cinta. Yang ingin bersamanya, tapi tak pernah percaya pada janji manusia lagi.

Ah! Aku ini pengecut cinta. Yang mencinta dalam senyap, yang mencinta tapi tak pernah jatuh, hingga akhirnya semua lenyap.

Asing Biarlah Tetap Menjadi Asing


Senyum itu dingin. Layaknya gemuruh angin di Gunungkidul ketika menjelang hujan disertai kabut, menusuk dari ujung rambut, hingga sudut hati yang paling sudut, dingin, tapi membuatmu nyaman dan ingin tertidur. Ah, itulah senyummu wahai mahakarya sang Pencipta, itulah senuyummu yang mengalihkan pagiku hari ini.
Dedaunan yang gugur di sekitarku lah saksinya wahai mahakarya sang Pencipta. Tanyakan saja pada mereka, betapa duniaku telah dialihkan oleh senyum itu, senyum yang beberapakali sempat menghangat berkat ulah beberapa camar di atas sana yang menuangkan beberapa cairan putih kepada beberapa sanak temannya.
Ah!Wahai engkau sang mahakarya sang Pencipta, bolehkah aku bertanya siapa namamu? Bolehkah aku berjalan menemanimu pulang? Bolehkah aku menggantikanmu memunguti dedaunan itu? Bolehkah aku mengagumimu?
Itu adalah beberapa pertanyaan yang sempat muncul dalam pikiran, namun tak pernah berhasil mewujudkan diri menjadi nada yang dapat dipahami oleh manusia, hanya menjadi beberapa gelombang bentuk komunikasi antara hati dan otak. Ah! Aku masihlah pengecut cinta, ingin dicinta, namun tak mau terjatuh lagi, tak mau terluka lagi.

Sumber
Ah, tuhan… inikah seberkas cahaya yang kau kirimkan kepadaku manusia pengecut yang terkurung dalam gelapnya dasar kawah? Atau ini hanyalah perangkap yang kau siapkan? Mengangkatku ke atas untuk kemudian membanting dengan lebih keras?
Biarlah tetap begini, dia bukanlah cahayaku, bukan pula perangkap untukku, dia hanyalah sebuah mahakarya sang Pencipta. Biarlah… biarlah… semua tetap begini, tetap menjadi asing satu sama lain.

Karena pada dasarnya, asing adalah karunia terindah Tuhan untuk kita, dengan menjadi asing, tak akan ada prasangka, yang ada hanyalah kekaguman ini. Tak ada janji yang akan diingkari, karena memang tak pernah ada janji. Tak ada yang menunggu, karena memang tak pernah berharap untuk dipertemukan. Tak ada yang akan tersakiti, tak ada yang akan patah hati, karena memang kita hanyalah orang asing satu sama lain.
Biarlah asing tetap menjadi asing, itu lebih baik. Lebih baik daripada sepasang kekasih yang telah usai masanya, kemudian kembali menjadi asing. Asing biarlah menjadi asing.

Terimakasih wahai engkau mahakarya sang Pencipta yang mengalihkan duniaku pagi ini. Terimakasih telah menjadi asing yang tetap asing…

Redo. 
Yang mungkin asing bagimu.

22 Oktober 2015

Dia Berlalu, Busuk Terdengar


       Berbicara tentang dia, maka dialah yang merobek topeng, namun terkadang dia pula yang memahat topeng di wajah. Yang mampu meruntuhkan tembok - tembok bebatuan besar di cina, juga tembok - tembok mungil di hati manusia.

       Pada awalnya, dunia perkuliahan sangat lah indah. Dikelilingi banyak teman, rekan, hingga mantan, setiap ada kesempatan selalu digunakan untuk jalan – jalan, menyenangkan. Namun dia berlalu, pergi tanpa permisi. Setiap kali dia berlalu, dia sedikit demi sedikit mengikis topeng topeng yang digunakan oleh teman, rekan, juga mantan. Memperlihatkan wajah asli mereka, memperlihatkan taring mereka yang selama ini hanya mereka tunjukkan di belakang kita. Di balik topeng itu juga mulai terdengar bau - bau busuk tentang kita yang selalu mereka bicarakan di belakang kita.

       Saat itu jugalah dengan paksa, dia dengan sangat perlahan mulai memahat topeng ke wajah kita. Topeng berbentuk senyuman yang dengan paksa dipahat di atas daging dan tulang kita, yang pada akhirnya topeng itulah yang selalu kita tunjukkan pada teman, rekan, juga mantan. Perih, bukan di wajah, namun di hati. Hati yang sedih, suaranya tak di dengar wajah.

Sumber
       Ketika kita masihlah anak - anak. Bintang - bintang di langit tampak lah begitu dekat, impian - impian yang kita gantungkan di sana, tampaklah begitu mudah akan kita gapai. Namun sekali lagi dia berlalu tanpa memperdulikan kita. Membuat bintang tampak begitu jauh, impian indah yang kita gantungkan dulu, mulai hilang dari jangkauan pandangan. Tangga yang kita bangun dengan memeras darah untuk menggapainya, juga mulai rapuh saat dia berlalu. Menghentikan kita untuk melanjutkan membangun tangga itu, namun juga menyadarkanmu sudah sejauh apa kita mendaki. Saat kita tengah dalam kebimbangan besar, sekali lagi dia pergi, meruntuhkan tangga – tangga rapuh kita, menjatuhkan kita ke tanah, menenggelamkan kita ke dasar laut, menyadarkan kita bahwa bintang itu di luar jangangkauan.

       Ah, dia, sang waktu. Dia terus saja berlalu tanpa permisi, semakin aku sadar bahwa semakin lama aku kuliah, semakin terlihat bahwa wisuda masih jauh. Bapak, Ibu, maaf.





3 Juli 2015

Peran



Kita terlahir membawa sebuah peran yang telah digariskan, sebagai khalifah, begitulah yang dijelaskan dalam agamaku. Tak ada manusia yang terlahir jahat, tak ada manusia yang terlahir baik, semua terlahir sebagai khalifah. Sebuah peran yang telah diberikan oleh Sang Sutradara. Diberikan. Kita tak bisa memilih, kita hanyalah pemeran.

Selalu ceria semasa kecil, berlari kesana – kemari tanpa peduli kotornya baju. Cukup cerdas untuk beberapa kali memperoleh juara kelas, cukup sadis untuk dapat memimpin beberapa temannya. Waktu berjalan melewati, dia tumbuh menjadi seorang pendiam yang penuh dendam, beberapakali menjadi scapegoat bagi temannya. Tak pernah terlihat marah, karena selalu marah. Akan tetapi di sekitar sanak sedarahnya, dia seorang yang rajin juga sopan.

Begitulah dia. Memainkan sebuah peran yang berbeda di momen yang berbeda. Memainkan peran yang berbeda ketika orang yang dihadapinya berbeda. Dia selalu ceria ketika kecil, meski terdapat beberapa bekas memar di punggungnya. Dia selalu terlihat ramah, tak pernah marah, meski sebenarnya dia sedang marah. Begitulah dia memainkan peran, begitulah dia berbohong.

sumber
Bukan hanya dia, aku, kamu, bahkan mereka, juga berbohong, demi peran yang dimainkan. Kamu dengan make up mu, kamu dengan trik kameramu. Kamu yang anggun di luar, kuat disekitar temanmu, namun cengeng dipangkuan Ibumu. Aku yang pendiam bila kamu tak disekitarku, namun menggila ketika kamu hadir. Mereka yang memuji mu di depanmu, namun menusukmu di hadapan orang lain. Kita semua pembohong, karena kita hanyalah berperan.


“Kamu adalah pembohong yang baik, setidaknya lakukan lah hal yang baik,” ungkap Dazai. Jadi, berbohonglah layaknya seorang Bapak dan Ibu,

“Santaplah tempe itu hingga habis, Nak. Bapak dan ibu mu sudah kenyang,”



Inspired by How To Become Myself.

6 Juni 2015

HyBryd ti papah



Sekali lagi, kota ini memberi sesuatu untuk dikenang, namun kali ini bukanlah kulinernya, bukanlah suasananya, bukan juga panoramanya. Yang terkenang kali ini adalah pendatang. Pendatang yang bahkan tak ku kenal sebelumnya, kini menjadi terkenang.
Lebih dua tahun sudah, saat aku berjumpa dengannya di depan sebuah kampus negri di kota ini berkat tuntunan seseorang. Usang, ingatan itu sudah semakin using, bagaimana dengan lucunya aku yang lebih muda dipanggilnya “mas”. Siapa yang tak tersipu dipanggil mas, siapa yang tak malu disapa dengan santunnya. Ingatanku tak begitu pasti lagi soal kejadian waktu itu, baju yang dipakainya, bawaan yang dibawanya, yang kuingat adalah tujuannya datang ke kota ini. Akan berjuang masuk ke universitas negri kota ini, begitulah titahnya, aku tak pernah tau jika mungkin dia menyembunyikan niat lain. Niat jalan – jalan mungkin, ya justru sebelum ujian dia mau aku ajak mengelilingi sebagian jalanan kota ini yang juga masih terlalu asing bagiku. Anak mana sih yang datang ke kota ini tanpa ada niat jalan – jalan, tanpa ada niat foto – foto?
Suasana museum yang sepi tepatlah sebagai gambaran suasana diantara kita, aku pendiam dia pun pendiam. Yang mampu mencairkan suasana mungkin kamera yang dibawanya, beberapa kali dia minta difoto oleh amatir sepertiku. Ah, kenapa pertemuan singkat tak sampai sehari bisa begini berbekas, kenapa pertemuan minim pembicaraan ini mampu berkesan? Hanya pertanyaan – pertanyaan tanpa jawaban yang kemudian muncul satu – persatu.

       Dia adalah orang yang baik, beberapa temanku yang mengenalnya pun berkata demikian. Tentu berbalik 180 derajat denganku yang “bandel”. Sepertinya 130 derajat lebih tepat, untukku yang tak begitu bandel. Hahaha. Yah tapi begitulah alam bekerja, begitulah Tuhan menciptakannya. Kutub magnet yang berlawanan akan tarik menarik. Tentu tarik menarik sendiri memiliki banyak presepsi, bisa saling menarik kebencian, bisa juga saling menarik rasa hormat. Semoga dia dapat istiqomah, juga senantiasa bahagia. 
Kamu penasaran dengan dia? Ingin tahu namanya? Ah, bukankah di paragraf ke-2 dan ke-3 aku sudah memampang namanya dengan besar! Layaknya kapital.




Tulisan setengah jadi Januari lalu.  

15 Desember 2014

Terkadang, Impian Membunuh Tuannya

Mimpi. Bolehkah aku menyebut mimpi sebuah “ketidakjelasan” ? Yah, pada faktanya aku tak perlu izinmu untu melakukannya. Daedalus dan anaknya yang terkurung dalam labirin gelap, selalu memimpikan langit yang luas, memimpikan sebuah kebebasan. Dengan usaha yang tidak mudah, mereka membangun sayap mereka, dari bulu – bulu yang mereka “pinjam” dari burung  yang kemudian disatukan dengan lilin. Pada akhirnya mereka dapat bebas, dapat menggapai langit luas yang selalu menjadi impian mereka. Namun apa yang terjadi setelahnya? Ya, Icarus tidaklah puas dengan impian yang telah diraihnya, dia menginginkan sesuatu yang lebih, yang pada akhirnya membuat sayapnya terbakar matahari dan tubuhnya ditelan lautan.
Sumber : Glory of Icarus
Dalam berbagai lukisan maupun puisi, Icarus digambarkan sebagai simbol keberanian, keberanian dalam menyongsong hal baru. Luar biasa, seorang manusia yang mati “dibunuh” oleh mimpinya dijadikan sebuah simbol keberanian. Berminatkah kamu mengikuti jejak Icarus?
Sewaktu aku duduk di bangku kelas 5 Sd, seorang guru bertanya apakah impianku. Kemudian dengan gampangnya aku menjawab, aku ingin jadi aktor. Jawaban yang bisa dibilang ingin mendapatkan kesan keren diantara teman – teman. Atau juga bisa dibilang jawaban yang muncul akibat salah didik oleh para guru, guru yang hanya sekedar menanamkan bahwa impian adalah sebuah profesi. “Kalau udah besar mau jadi apa?” “Jadi polisi ya, biar bisa nangkep banyak penjahat”.
Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah, pelajaran yang dianggap sangat sulit adalah Fisika. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk hebat dalam pelajaran Fisika, aku ingin menjadi ahli di bidang yang banyak orang tak bisa. Aku ingin dianggap hebat oleh teman – temanku, mungkin. Kemudian impianku kian meninggi, bermimpi mendapat medali emas OSN, bakhan olimpiade internasional. Hampir kemanapun aku pergi, aku selalu membawa sebuah buku Fisika dan sebuah pensil. Pada akhirnya mimpi – mimpi itu berguguran, aku hanya mampu juara di kabupaten, tanpa mampu berbuat banyak di profinsi. Aku gagal keren, dan sekarang aku berfikir, saat itu mungkin aku akan terlihat lebih keren kalau sering berbagi ilmu dengan teman – temanku, tak hanya sibuk sendiri, terbang sendiri.

Dunia terus berputar, waktu terus berjalan. Aku masih belum mampu menemukan impianku. Beberapa waktu lalu saat aku membaca komik Yotsubo&! , aku memimpikan menjadi ayah Yotsubo. Yang bekerja hanya dikamar dan menghabiskan sepanjang hari bersama anak tercinta, bersepeda keliling komplek bersama, masak bersama, memancing bersama. Di lain waktu, ketika aku tengah melakukan kerja part-time aku melihat kedai Pie di sebelah tempatku bekerja adalah kedai yang dimiliki sepasang kekasih. Kemudian saat itu aku pun bermimpi ingin memiliki kedai seperti itu,  untuk kemudian menghabiskan seluruh hidupku di kedai itu bersama istriku. Aku yang bagian bar, dia yang bagian cook. Aku membuat minum, dia membuat cupcake. Ah, kenapa aku malah tebar kode begini? Sudahlah namanya juga bermimpi.

 Semoga aku tahu batas kekuatan lilin yang menyatukan sayap – sayapku,aku tak ingin bulu sayapku jatuh berhamburan, aku tak ingin ditelan lautan, aku tak ingin seperti Icarus. 

26 September 2014

Ada Pelajaran di Balik Getah

Waktu terasa bergulir begitu cepat, bergulung - gulung meninggalkan aku dengan laptop bututku terkurung di kamar gelap di ujung rumah. Waktu seakan tanpa permisi hanya berlalu begitu saja, atau mungkin waktu sudah menyapa hanya aku saja yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Tenggelam dalam semangat memenangkan trofi Liga Champions dalam game Football Manager, terkadang juga hanyut dalam arus persahabatan Natsu dan kawan – kawannya di Guild Fairy Tail. Aku tenggelam dalam duniaku, dalam aliran waktuku sendiri, sehingga tanpa dirasa dunia luar telah begitu banyak berubah. Dari kelangkaan BBM, hingga kelangkaan gas 3 kg, bahkan tentang RUU Pilkada, semua berlalu tanpa sempat aku menyadari. Informasi hanya masuk kepadaku melalui obrolan beberapa bapak - bapak yang hampir selalu nongkrong di angkringan Pak Mamad di selokan mataram. Layaknya sekarang ini, aku mencoba menyapa dunia luar, mencoba kembali mengikuti aliran waktu orang –orang, aku tengah duduk tepat dipinggir selokan, memandangi pegawai – pegawai yang tengah mengerjakan jalan baru, sembari menikmati beberapa nasi kucing dan beberapa tusuk sate usus, sesekali juga menyeruput es tape yang tentu sangat nikmat.

Aku ingat sekali beberapa waktu lalu, tepat disaat kelangkaan BBM terjadi di Yogyakarta, atau bahkan Indonesia. Ada sebuah peristiwa yang sangat menghebohkan Indonesia saat itu. Ceritanya sederhana, hanya karena kesalahpahaman seorang gadis -sebut saja Bunga- yang ingin membeli bensin pertamax di salah satu pom bensin di Yogyakarta, tetapi Bunga tidak tahu bahwa dia menyerobot antrian, Bunga mengira antrian panjang di pom bensin tersebut adalah untuk mendapatkan bensin premium dan Bunga tidak tahu bahwa ternyata antrian panjang itu juga untuk mendapatkan pertamax. Namun kemudian yang membuat semua terkesan lebih heboh adalah ungkapan nya di media sosial, yang bisa dibilang melecehkan Yogyakarta.

Aku juga ingat sekali waktu itu, aku tengah duduk seperti ini, yang membedakan, disebelahku ada 3 bapak - bapak yang juga tengah menikmati minuman mereka. Mereka berbicara banyak hal, mulai dari pertandingan bola, hingga bisnis burung mereka, hingga pada akhirnya mereka tertarik membicarakan kasus Bunga yang saat itu tengah hangat – hangat nya.

"Jebule sekolah duwor - duwor urung tentu iso dadi wong apik,"
(Ternyata sekolah tinggi – tinggi belum tentu bias jadi orang baik)
"Lha yo pancen tenan lek, wong pinter neng goblok,"
(Betul itu mas, pinter tapi juga bodoh)
"Pinter neng goblok pie maksud mu?"
(Pinter tapi bodoh itu maksudmu apa?)
"Lha pinter, wong jenenge cah UGM, neng jebule kelakuane goblok,"
(Yap inter orang namanya kuliah di UGM, tapi ternyata kelakuannya kayak orang bodoh)
"Wah bener kui, paling ugm mek ngajari ilmu umum, neng ora ngajari tata krama, duh pie nasib Indonesia ngarepe iki,"
(Weh benar itu, paling UGM hanya mengajarkan ilmu umum, tetapi tidak mengajarkan tata krana, duh gimana nasib Indonesia kedepannya ini)

Begitulah kira – kira percakapan yang terjadi. Aku yang kebetulan mahasiswa UGM dan kebetulan duduk di sebelah mereka bertiga hanya mampu menelan ludah. Hilang sudah rasa es tape yang biasanya nikmat, kini hambar. Rasanya ingin mendebat mereka, namun ribuan kata - kata yang tersusun seolah - olah ikut tertelan bersama es tape yang ku minum.
Aku hanya merasa kok tak pantas semua unsur UGM disalahkan, hanya karena kelakuan Bunga. Banyak mahasiswa baik - baik yang sering memperjuangkan hak - hak rakyat juga, ada juga mahasiswa yang meski jarang kuliah-sebut saja aku- namun memiliki perilaku baik. Rasanya semua unsur itu terhapus, semua menanggung akibat perbuatan si Bunga. Kepercayaan masyarakat luntur kepada UGM, mungkin. Hal ini tak cuma terdengar di angkringan, terkadang di warung burjo, terkadang warung - warung prasmanan juga. 
       Mungkin inilah rasa sebenarnya dari peribahasa GUPAK PULUTE ORA MANGAN NANGKANE. Peribahasa ini dapat diartikan tentang kesialan seseorang yang padahal tidak ikut menikmati sesuatu, tapi menerima resiko ataupun akibat. Bunga panen nangka, tentu Bunga terkenal dimana – mana, banyak masuk stasiun TV-meski bukan niat awalnya-, kalaupun dia terkena getah itu wajar karena Bunga yang memanen dan mungin memakan nangkanya. Akan tetapi aku yang biasanya hanya berdiam diri di dalam kamar juga tiba - tiba terkena getah, getah dari nangka yang dipanen oleh si Bunga. 

       Tapi tahukah bahwa dibalik "getah" itu juga terselip sebuah pelajaran berharga? Bukankah sebaik – baik manusia adalah manusia yang mampu bermanfaat untuk banyak orang? Ataupun minimal lingkungannya? Nah sudah seharusnya kita -yang ingin menjadi manusia baik- berusaha untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Kalaupun tidak bisa, setidaknya tidak merepotkan atau menyusahkan orang lain, tidak menempel getah kesana kemari. Aku juga belajar, meskipun aku belum mampu memberi manfaat pada orang lain, setidaknya aku tak ingin menysahkan orang lain. Tetapi aku juga mau mencoba untuk bermanfaat untuk orang lain, aku mau masuk ke dalam aliran waktu bersama orang - orang. Baik di depan laptop butut ku, maupun diluar aliran waktuku. Semoga tulisan ini bermanfaat. 



21 Agustus 2014

Video Dewasa? Ah, Rumor!

      Ceritanya simbah sakit, saya kebagian jaga malem. Kerena kedinginan dan kebosanan saya menggoda mbak - mbak perawat. Eh, maksud saya pergi ke Mushola untuk tilawah Al-Quran, hmmm ralat sebenernya mainan perawat, duh salah ketik, mainan laptop yang bener. Dan inilah hasil mainannya, sang buah hati(?) alias sebuah video cukup kece. Kalau ada kemiripan rupa, nama, baju, dan peristiwa berarti anda sedang sial. Sekian!


       Jadi ini wujud videonya Click Here .

16 Agustus 2014

Sajak Rindu

Aku merindukanmu
Minggu malam ku terbesit tentangmu
Merah putih kebanggaanmu
Kamu membawaku ke masa lampau
Masa yang putih juga abu abu
Masa putih biru yang terasa haru
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Merindukan mu yang membuatku berdiri malu
Kamu yang membuatku menyanyikan lagu
Berkobar layaknya bandung waktu itu
Syahdu penuh doa untuk Ibu
Dari waktu ke waktu
Kamu membuatku melakukan ritual baru
Membaca perkamen usang dari masa lalu
Perkamen rancangan pemimpin negara baru
Aku lelah saat itu
Berdiri malu bersamamu
Kadang aku membencimu
Aku membencimu
Merenggut awal hari dalam seminggu
Kini
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Meniupkan semangat untuk maju
Membakar api untuk berkumpul menjadi satu
Meniupkan semangat menggebu - gebu
Menghargai orang - orang masa lalu
Aku mulai merindukanmu
Dirimu yang membuatku mencintai sang Ibu
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Kamu tak pernah lagi hadir dalam hari - hariku
Minggu malam tak pernah aku terfikir tentangmu
Kamu tau?
Kini aku hanyalah mahasiswa yang layu
Yang mulai melupakan sang Ibu
Kini dia hanyalah tikus berbaju
Rakus memakan daging sang Ibu
Kini mereka saling beradu
Bengis berebut harta warisan sang Ibu
Membuat Ibu menangis tersedu sedu
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Mengisi setiap senin pagiku

Merayakan setiap ulang tahun Ibu

Aku, Si Peserta Upacara.

14 Agustus 2014

Curhatan Saya !

Sehat itu murah, menjaga kesehatan itu mudah. Akan tetapi banyak yang mengingkari, sampai pada akhirnya justru sehat itu terasa mahal ! Apalagi ketika sudah jatuh sakit, obat - obatan adalah sarana yang mahal, yang sangat mencekik bagi kaum golongan menengah ke bawah. Bagaimana hanya bercuap - cuap selama 19 menit bersama dokter(spesialis) mengeluarkan biaya ratusan ribu, hanya bercuap - cuap! Padahal kesehatan itu adalah hak segala bangsa oleh sebab itu(?)... Jangan jerat saya dengan hukum penyelewengan UUD ya... :p

Selain harga obat - obatan yang selangit, dokter - dokter di wilayah pelosok - pelosok masih lah sangat minim. Perlu perjalanan hingga 1 jam untuk sekedar berobat. Bayangkan apabila tiba - tiba seseorang terkena serangan jantung, patah kaki, patah kepala, dan harus menempuh 1 jam untuk menemui dokter. Saya yakin arwah orang tersebut sudah sempat bermain poker di akhirat sana, barulah jasad nya sampai pada dokter(hanya untuk yang percaya kehidupan setelah kematian). Menurut saya inilah salah satu faktor yang menyebabkan BANYAK nya kasus bunuh diri di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta. Salah satu. Banyak orang yang lebih memilih mati ketimbang sakit maag dan darah tinggi berkepanjangan. Meski banyak faktor lain yang mempengaruhi juga, kadang merasa tidak dipedulikan anak - anaknya yang jauh diperantauan, merasa seolah - olah dunia sudah tak menginginkannya hidup lagi, maka banyak yang memutuskan gantung diri. Gunung kidul memang sebagian tanah nya berbatu, bisa dibilang kurang subur, tetapi sebenarnya memiliki wisata alam yang luar biasa indah.


Hal unik lainnya adalah, kebanyakan warga di pelosok daerah kesulitan dalam membaca tulisan. Mungkin buta huruf, mungkin juga kondisi mata yang sudah tak memungkinkan untuk membaca. Dengan kondisi seperti itu, apoteker(atau apalah yang memberikan obat ke pasien) memberikan keterangan pada obat dengan tulisan, tulisan yang sangat kecil, yang mustahil untuk dibaca. Bahkan saya pernah dipanggil ke RT lain hanya untuk membacakan tulisan yang tertera di obat, 3xsehari dan kawan - kawannya. Memang di Gunung Kidul jumlah pemuda nya bisa dibilang sedikit, banyak yang merantau. Seharusnya dunia kedokteran berfikir kreatif, bukan dengan tulisan tapi dengan warna bungkusnya. Merah untuk sebelum makan, hijau untuk sesudah makan, putih saat makan(nasi). Lalu bagaimana yang buta warna mas? Wah, iya, tak boleh ada diskriminasi kan, jadi gunakan warna yang dapat dibedakan oleh penderita buta warna. Lalu untuk yang benar - benar buta bagaimana? Hmmm. Sepertinya juga harus ditambahkan tulisan dengan huruf braile(bener gak sih, huruf yang timbul - timbul gitu) pada pembungkus obat nya. Lalu gimana buat yang buta, dan tak punya tangan juga? Tak mampu meraba - raba? Aah, syudah lah, saya nyerah. Pokoknya apoteker atau dokter, lebih telaten lah dalam menjelaskan penggunaan obat pada orang tua atau pasien lanjut usia, sampai pasien paham, tak salah minum obat, pasien sehat. Jadilah pahlawan kesehatan dunia, jangan dirimu mengejar uang, kejarlah kebaikan. Calon dokter juga loh, jangan hanya memikirkan karir sendiri, insyallah calon dokter yang baik dimudahkan jodohnya. Hidup Indonesia! Indonesia sehat!!! Saya cuma curhat!!!

TransJogja : Bus Anti Galau

Jogja. Jogja. Jogja. Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah yang istimewa bagi penghuninya maupun pengunjungnya.

Kota dengan 1001 senyuman. Kota yang akan memberikanmu 1000 alasan, untuk kerasan. Terkadang memang terjadi kekerasan, terkadang banyak kemacetan, namun semua akan sirna ketika kamu melihat indahnya prambanan. Candi indah hasil persembahan Bondowoso untuk Roro yang rupawan. Sekedar bocoran. Roro jonggrang bukan di peristiwa tangkuban perahu seperti kata bapak - bapak partai *sensor* , iya kan?

Kalau kamu ingin tau. Jogja bisa dinikmati hanya dengan tiga ribu. Dengan selembar uang 2 ribu dan selembar uang seribu, Transjogja akan membawamu ke berbagai penjuru. Tak perlu mobil baru, untuk membawamu ke kota baru. Tak perlu motor baru, untuk membawamu menikmati malam minggu. Cukup 3 ribu, akan membuatmu menikmati perjalananmu. Di situ kamu akan menemukan wajah - wajah penghuni jogja yang syahdu. Dari penjual susu, hingga mbak - mbak berbaju baru. Mungkin kamu sedang galau? Transjogja akan menjadi solusi terbaik untukmu. Relakan saja dia yang meninggalkanmu untuk mengejar pacar baru. Cukup kau ambil 3 ribu, kemudian naik transjogja duduklah jauh dari pintu. Pakailah sepatu baru dan juga baju baru, kemudian cukup diam membisu, nikmati pertunjukan kehidupan di depanmu. Dengarlah dialog dialog tanpa skenario di sekitarmu, lihatlah wajah - wajah baru yang belum pernah bertemu denganmu, amatilah satu per satu, hingga kamu menemukan yang menarik perhatianmu. Ketika kamu mulai bosan dengan itu, lihatlah keluar jendela transjogja itu. Nikmatilah film tentang jogja yang lugu, dari orang - orang nya yang lucu, hingga lingkungannya yang syahdu. Apa kabar dengan galau mu? Masih ada di hatimu? Hmmm. Mungkin sebelum naik transjogja kamu melupakan unsur yang paling perlu. Hatimu, hatimu harus siap melupakan masalalu, hatimu harus siap menerima hal - hal baru. Hatimu harus menerima orang - orang baru, dengan begitu siapa tau kamu akan menemukan pacar baru? Bahkan mungkin Tuhan akan mempertemukan dirimu dengan jodohmu. Jadi biarlah beban masalalu mu dibawa asap tebal transjogja itu, kamu cukup menyongsong masa depanmu dengan semangat menggebu-gebu! Jika suatu saat kamu kembali galau, ambillah uang 3 ribu. :)


Seseorang yang sering menghabiskan waktu di Transjogja saat galau, menaiki transjogja tanpa tujuan. 

5 Agustus 2014

Rembulan

Rembulan : Indah, tapi Tak Dapat Kau Sentuh, 
Tak Dapat Kaumiliki
[FIKSI-CERPEN-DITULIS DI HAPE-9MENIT]

Alkisah dalam dunia yang tak pernah bisa terjamah oleh orang lain. Bahkan mungkin kamu tak akan pernah memahaminya! Hanya malaikat, Iblis, dan aku yang tau. Dunia antah berantah!

-------

Aku seperti biasa, menghabiskan malam memandangi rembulan yang tengah tersenyum. Udara dingin di pegunungan palsu ini sangat menusuk, memaksaku melipat tangan di dada, aroma batu kapur yang memenuhi area ini sangat menenangkan hati. Suara sapi tetangga sesekali mengiringi suara jangkring - jangkrik yang sedari maghrib tadi sudah bernyanyi riang, seperti alunan Buble yang mampu membawamu kedunia lain.

Sesekali aku menyeruput teh yang kuletakkan tepat disebelahku, yang sudah mulai dingin terkena udara malam, berkali - kali pula simbah ku memanggilku untuk masuk ke dalam rumah. Tapi aku acuhkan. Aku masih ingin memandangi dia, yang tengah tersenyum dilangit sana. Rembulan. Yang senyumannya mengingatkan ku akan seorang gadis yang kusuka.

Aku mengambil HP ku, melihat beberapa recent updates, tak terlalu fokus hanya sekilas melihat. Kemudian pindah ke Twitter, membaca beberapa kicauan teman - teman lain, semua nya terasa dekat. Bahkan yang jauh di ujung ternate sana, seolah - olah tengah bercakap- cakap ria bersamaku. Kembali lagi aku ke recent updates, dan !

DUGG!!!

Jantungku secara spontan berdetak sangat kencang. Kaget? Emosi? Cemburu? Ah aku tak tau apa yang aku rasakan!  Aku klik menu option, kemudian view contact profile, kemudian aku menekan tepat ditengah display picture!

DUGGG!!!! DUUG!!! Detak jantungku semakin menjadi, tangan ku gemetaran, badanku bahkan mulai berkeringat! Aku kenapa?! Aku sebenernya kenapaa? Aku mengalihkan pandangan ke rembulan, kemudian aku bertanyaa?! Aku kenapa rembulan? apakah aku sakit?

Rembulan itu hanya tersenyum, tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Tapi kemudian aku mendengar sebuah suara.

I: Kamu tengah dilanda cemburu temanku! Kamu marah melihat dia! Lihat lah dia, dia bersama seseorang mengendarai sesuatu yang berwarna warni itu! Kamu tengah marah temankuuu!!! Ayo habisi diaa!!

M: kamu hanya kaget saudaraku, percayalah semua nya baik baik saja.

I : baik - baik saja Gundulmu. Lihat gambar itu, Gadis yang kau idam - idamkan sejak lama itu, gadis yang kau puja puja itu bersama laki - laki lain! Kamu marah temanku! Ayo hajar dia!!!

Aku marah? Iyakah aku marah? Apakah gemertaran ini pertanda kemarahan? Jantungku berdegup kencang ini kemarahan? Sepertinya iya! Aku marah! Tapi aku tak bisa bergerak, tak bisa berpaling. Senyuman rembulan itu terlalu indah untuk kulewatkan malam ini, aku tak ingin terlihat marah di depan senyumanya!

M: kamu bukan marah saudaraku, percayalah. Itu hanya gejala kaget, minumlah teh itu, nanti akan baik - baik saja.

I: Aaah!! Jangan percaya si sok suci itu! Dia cuma mau mencegahmu mengambil kembali sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milikmu. Gadis impianmu!!! Gadis yang senyumnya kau idam - idamkan. Gadis yang rela membuat mu menghabiskan setiap malam memandangi rembulan!!!! Ayo rebut kembali dia! Dia milik mu!!

Iya!!! Aku harus merebut sesuatu yang seharusnya menjadi milikku. Bagaimana caranya? Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membunuh yang bersamanya? Apa yang harus kulakukaaan!!

M: tenanglah..., minumlah teh hangat itu, tunggulah hingga tenang. Barulah kamu bisa berfikir jernih.

DIAAM!!! Aku hanya ingin mengambil kembali sesuatu yang menjadi milikku!!!

I : Benaaar! Ayo ambil kembaliii!!!

M: Dia bukan milikmu, Saudaraku!

Aku terdiam. Sadar? Bukan, hanya kebingungan yang semakin menghantui.

I: jelas lah dia milikmu, senyuman seindah itu sudah seharusnya menjadi milikmu, Temanku!!

M: saudaraku, lihatlah kembali display picture itu. Lihatlah baik - baik gadis pujaan mu itu. Lihat. Lihatlah keindahan senyumnya, guratan mata nya. Lihatlah kebahagiaan yang mengalir melalui senyum itu. Bukankah itu yang membuatmu jatuh cinta padanya?

Aku hanya mengangguk. I pun terdiam.

M: kalau kamu membunuh yang bersama nya? Bukankah senyum itu akan hilang? Kamu akan sedih jika itu terjadi kan saudaraku? Seperti gerhana beberapa bulan yang lalau, ketika bulanmu dimakan oleh setan? Kamu merasa sangat sedih? Iayakan?

Aku kembali mengiyakan. I masih belum bersuara.

M: Lihatlah kembali gadis itu, itu senyuman yang belum pernah kita lihat kan? Dia tersenyum bahagia. Tidakkah yang kamu inginkan dia selalu tersenyum seperti itu?

Aku ingin melihatnya terus begitu. Kamu benar M! Kamu benar! I kebingungan.

M: biarlah dia bersama seseorang itu, bukankah yang terpenting bagimu dia bahagia? Bukankah yang terpenting bagimu dia tersenyum? Bukankah yang terpenting rembulan menghiasi langit?

Iya M, iyaa, aku tau. Tapi ini, sakit. Perih M. Lihat! Air mengalir dari mataku? Apa yang terjadi M? Aku tak akan mati kan? M aku baik baik saja kan?

M: Tenang saudaraku, itu membuktikan bahwa kamu manusia, percayalah. Kebahagiaan nya adalah kebahagiaanmu suatu saat nanti. Biarlah perih sementara, lihatlah senyuman rembulan itu, itu akan mengobatimu.

Aku terpaku, memandangi rembulan. Rembulan dalam bentuk sabit terindah. Perlahan - lahan aku merasa nyaman. Air mataku mulai berhenti mengalir. Rembulan itu membuatku tenang. Rembulan itu membawaku pada setiap memori senyum gadis itu. Biarlah dia bersama orang lain. Selama ia terus tersenyum, aku pasti bahagia. Sampai suatu saat nanti, kutemukan juga belahan hatiku. Teruslah bersinar rembulan, teruslah tersenyum, Gadis. Aku menyayangimu.

Gunungkidul, 4 Agustus 2014. 22:35.
Rembulan terindah yang pernah kulihat

4 Agustus 2014

Dimulai dari Nol yaa...

      Kira - kira beberapa hari yang lalu kita semua ditinggalkan, di satu sisi kita merasa sangat bahagia, di satu sisi kesedihan juga melanda. Layaknya kita yang ditinggal pacar karena dia lebih memilih orang lain, sedih pasti, namun disuatu sisi bahagia juga, soalnya beruntung dia belum menjadi Istri. Hahahaha. Kayaknya analogi yang tak pake salah. Yang jelas galau lah. Galau! Ditinggal Ramadhan, namun kedatangan lebaran.

      Tak dipungkiri lagi teknologi memerankan peran penting dalam peristiwa ini, memotong jarak. Mendekatkan yang jauh, menjauh kan yang dekat(?). Ya, teknologi mampu mengikat silaturahmi keluarga - keluarga yang tak mampu untuk bertatap muka, dari sms, telfon, bbm, wa, dsb. Kebetulan aku punya hape yang tergolong menengah, pinter nggak, goblok juga nggak, panggil saja blackberry. Ceritanya si Blackberry ini sampe pingsan pas hari lebaran, dia bukan kebanyakan makan ketupat atau kebanyakan dapet THR, dia cuma kebanyakan dapet BC, iya, dapet banyak tulisan ungu yang dikirim sebagai ungkapan isi hati para penggemar(Ketahuan penulisnya jomblo akut), eh maksudnya ucapan selamat, permohonan maaf, dll.





     Gimana pendapatmu? Kalau aku sih bener - bener nggak minat buat bales pesan yang begituan. Aku kan tipe cowok yang ANTI di-dua-in! :p Hahaha.  Rasanya sia - sia deh BC panjang begitu, tapi dibaca pun nggak Coba deh bandingkan sama yang begini, walau cuma "Mohon maaf lahir batin, Cuuk!"


Ehh. Malah dipalakin. -____-

      Ah, ini udah aku sensor loh, serius! Jomblo nya tak tertolong lagi sepertinya. =D


      Ini (bukan) dari mbak - mbak pom bensin loh.




      Ah, ini simbah gaul, yang umur 20 tampang 120! Leluhur! Perlu dilestarikan...


      Ini nih, si bawel....


      Ini temanku yang bahkan berbeda Agama. :) Indahkan keberagaman?!


      Aku sih ngerasa spesial kalo dapet pesan yang khusus, bukan buat banyak orang! Rasanya tuh lebih dapet feelnya. Tapi ya bagaimanapun yang penting niatnya, niat saling memaafkan, bukan modus! :p

"Mas, Mbak, dimulai dari nol yaa...,"