27 Mei 2013
Ketika si Petualang Merindukan Petualang Lainnya (edit).
Jogja tengah menangis, seolah-olah dia bisa membaca isi hatiku. Matahari sudah sejak tadi pundung dan pulang ke peraduanya. Sedangkan si rembulan justru bangun kesiangan, sehingga belum muncul hingga saat ini. Kosong. Jogja benar - benar terasa kosong. Aku sendiri malas untuk bergerak, menyimpan kalori, atau memang aku malas. Jogja tak semenarik biasanya. Setiap tempat yang aku kunjungi selalu memberikan sebuah efek "ngenes" dan sebuah pementasan buram, layaknya film jadul tapi aku yang ada di dalamnya, bersama seorang gadis.
Iya, gadis itu pergi meninggalkan Jogja Jumat kemarin. Dia bilang dia bukan "pulang" ke Pekanbaru, tapi "pergi" ke Pekanbaru, karena dia beranggapan Jogja adalah rumahnya. Ya, gadis mungil itu sejak kecil sudah bermimpi untuk bisa ke Jogja, dia bahkan selalu bercerita tentang betapa spesialnya Jogja bagi dia, bahkan aku yang sudah hampir 1 tahun di Jogja justru banyak bertanya tentang Jogja padanya. Sebenarnya aku cemburu, cemburu pada Jogja. Gadis yang dari kecil sampai sekarang sangat suka tempe ini bahkan bilang Malioboro adalah jalan yang wajib dilewati setiap hari.
Aku tidaklah asal tulis tentang dia. Dia adalah "musuh" masa kecilku. Iya, dia adalah musuhku di taman kanak-kanak hingga SD. Tiada hari tanpa percekcokan bagi kami, aku biang ribut di kelas, sedangkan dia si pencatat yang ribut di kelas. Dia adalah murid kebanggaan dan kepercayaan para guru, aku? ya, aku adalah murid yang selalu bisa membuat para guru naik darah. Dia gadis yang cerdas, jago Bahasa Inggris, jago menulis, dia bisa di banyak hal waktu itu. Dia adalah primadona sekolah.
Waktu berjalan dengan sendirinya. Dia tumbuh menjadi gadis yang penakut. Dia mengarungi waktu dengan ketakutan akan masa lalu. Dia tak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Kalau ibarat buah yang jatuh dari pohonnya, dia secara kebetulan jatuh di sungai yang salah, sungai deras yang membawanya ketempat - tempat yang menakutkan, tapi dia bukannya menjadi berani dia justru semakin terbebani dengan masa lalunya itu. Dia takut untuk melawan arus sungai itu. Seorang trainer pernah berkata padaku bahwa jika ingin sukses kita harus melepaskan semua beban dimasa lalu, sehingga kita bisa dengan mudah terbang menggapai mimpi kita.
Akan tetapi apa yang si petualang penakut itu lakukan padaku? Dia menanamkan keberanian dalam diriku. Dia mampu membuatku berani mengarungi jalan-jalan yang belum pernah kulewati seblumnya. Dia mengajakku hanyut dalam sungainya. Aku menikmati setiap pelayaranku dengannya, mengunjungi tempat-tempat baru dalam hidupku, bertemu wajah-wajah baru yang luar biasa. Dia (pernah) menjadikanku sempurna. Pada akhirnya aku tahu bahwa Jogja akan tetap menjadi tempat yang spesial baginya, tapi Jogja bukanlah tempat yang spesial tanpanya. Jadi untuknya aku berkata, terimakasih membuat Jogja terasa spesial.
Yang pernah selalu menunggumu di Jogja.
8 Mei 2013
Konspirasi Dibalik Buku, Cokelat, dan Gelas.
Sebenarnya
kalau dibilang pengangguran juga tidak tepat karena aku punya banyak
tugas dan pekerjaan, tetapi memang ya aku saja yang membawanya
dengan santai. Karena menurut orang yang aku kagumi, kita akan mampu
berbuat maksimal saat apa yang kita lakukan kita sukai. Betul kan?
Yah setiap pribadi pasti punya sebuah ideologi masing–masing.
Malam ini pun sebenarnya aku masih punya tanggungan sebuah laporan,
tapi aku lebih memilih main Criminal Case ditemani segelas kopi di
dalam gelas baru.
Iya, gelas bergambar 2 buah ikan yang aku sendiri tak dapat membedakan
jenis kelamin mereka, tapi aku tau bahwa mereka adalah simbol dari 12
zodiak yang ada, Pisces. Gelas itu adalah hadiah ulang tahunku
yang ke 18 dari keluargaku di Departemen Sosial BEM KM FMIPA UGM. Sebuah keluarga kecil tempatku berbagi tawa. Sebenarnya sudah hampir
lewat 3 bulan dari hari ulang tahunku, tapi mereka masih saja ingat
dan merayakannya, bisa dibilang ini adalah tiup lilin pertama dalam
hidupku. Hahaha.
Sebenarnya
aku menerima 3 buah kado di tahun ini, sebuah buku, coklat dan gelas.
Betapa sebuah kolaborasi yang indah, bukan? Aku bukan detektif yang terlalu
banyak bertanya, tapi aku sedikit curiga pada Tuhan dengan kado–kado ini. Memang kalau ditelisik lebih dalam kado ini berhubungan. Tuhan memintaku membaca buku penuh motivasi itu sambil sesekali
memakan coklat dan meminum sesuatu dari gelas itu. Ahahaha benar–benar indah bukan rencana Tuhan? Mungkin aku benar–benar akan
menikmatinya jika kado itu datang bersamaan. Tapi kenyataannya buku
datang di bulan Maret, coklat di bulan April, dan gelas di bulan Mei.
Hahaha semoga memang sebuah rencana besar yang bahagia tengah Tuhan
bangun untukku.
Tidak
perlu lagi memikirkan konspirasi buku-coklat-gelas. Aku hanya ingin
berterimakasih pada semua elemen yang telah berperan dalam drama
kehidupanku. Peran baik ataupun buruk tetaplah memberikanku sebuah
pelajaran. Tapi khusus di hari yang sudah lewat lama dari hari ulang
tahunku ini aku ingin berterimakasih pada yang telah mendoakan dan
memberiku kado–kado indah, Cinnamon, Hani, dan teman teman
sosial. Semoga kebahagiaan selalu menaungi kita semua. Mungkin di
lain waktu aku yang akan membahagiakan kalian. Yah tentu saja aku tak
akan bisa menjabat tanganku sendiri ketika berjalan di taman bunga
yang luas. Aku perlu tangan lain yang lebih feminim, aku masih
berharap dan menantinya.
Yogya, 7 Mei 2013
30 April 2013
Homeless to Harvard, an inspired movie.
Yah seperti biasa
aku hanyalah orang yang kelebihan waktu. Malam ini pun begitu. Aku
menonton sebuah film yang really gave me a punch in my face.
Homeless to
Harvard
itulah judul film yang aku tonton malam ini, not sure it's night or
early morning. But you know? I'm cried while watching it. Film ini
tentang seorang anak yang orang tuanya adalah pengidap AIDS, pecandu,
pemabuk dan tinggal di sebuah apartemen buruk. Namanya Liz.
Ellizabeth. Nama seorang ratu, yang tak beruntung untuk dilahirkan
dari keluarga seperti mereka. Tapi dia tetap mencintai ibunya, dia
mengurus ibunya, memandikannya, ketika ibunya pulang dari bar dan
mabuk dia yang mengurusnya. Semua dia lakukan hingga suatu saat
ibunya meninggal. She hasn't nothing anymore.
Semenjak kepergian orang tuanya dia pergi dari rumah, kakeknya tidak
menyukainya, dia tidur di stasiun, makan dari tempat sampah. Semua
dilakukanya untuk bertahan hidup. Yah pada akhirnya dia memutuskan
untuk sekolah, menempuh high school yang seharusnya 4 tahun menjadi 2
tahun saja. Dan berkat kerja kerasnya dia bisa kuliah di Harvard
dengan beasiswa dari New York Times.
Kemudian aku sedikit berfikir, apakah setiap orang harus sukses dalam
keadaan yang sama? Apakah setiap cowok harus menjadi insinyur dan
setiap wanita harus menjadi dokter? Apakah sukses itu ketika memiliki
mobil, apartemen, dan uang melimpah? Itu tidak adil. Anak yang
terlahir dari orang tua kaya sudah dapat dikatakan sukses dong? With
no work. Sedangkan anak yang terlahir dari orang tua kurang berada?
Kalau dijalan yang benar mungkin mereka akan bisa meraih itu, kalau
di jalan yang salah? Mereka cuma akan menjadi mayat yang tak di kenal
di kolong jembatan.
Bukan karena apa aku menyukai film ini, layaknya aku suka film
3idiots, ini karena ada kemiripan cerita di dalamnya. Yah
usaha kami sedikit sama. Liz, Rancho, dan aku memang harus berjuang
sedikit lebih banyak dari yang lainya.
Ini bukanlah sebuah keluhan, bukan pula sesuatu yang menarik. Aku
hanya ingin berbagi. Aku tau bahwa hasil lah yang diperlukan. Tapi
cobalah melihat sebuah proses. Tak ada salahnya untuk mengamati
sejenak, bukan? Aku yakin Tuhan juga menilai sesuatu dari usahanya,
seberapa beratkah ujian yang didapat selama dia melakukan sesuatu.
Lagipula sukses itu tidak jauh, dekat sekali. Sukses itu ada di
telinga, kamu hanya perlu cermin untuk dapat menyadarinya.
14 April 2013
Untung Oksigen Masih Gratis
Bulan Maret belumlah berlalu, tapi sudah banyak sekali kesan menyenangkan
dalam tanda kutip di dalamnya. Baru saja aku selesai menelpon ibuku,
meminjam HP teman. Yah sudah hampir sebulan HPku rusak. Kangen? Ya
kalau dibilang kangen mungkin ini sudah yang stadium akhir. Ingatanku
akan wajah orang tuaku bahkan sudah mulai kabur. Sudah sebanyak apa
uban di kepala ayah dan ibuku. Sudah sebanyak apa garis–garis
keriput di wajah mereka. Seberapa kurus ayah dan ibuku sekarang. Aku
tak mampu membayangkan itu. Terakhir kali aku dapat mengecup tangan
mereka adalah januari tahun 2012. waktu itu aku masih SMA.
Aku
tak mau bilang ini bulan buruk karena masih ada kebahagiaan di
dalamnya, walau setetes. Semua berawal ketika ada permasalahan di
pemerintah pusat. Aku tak paham apa yang terjadi di sana. Aku hanya
merasakan akibatnya, uang beasiswa turun telat. Untuk aku yang
hidupnya hanya bergantung dari uang tersebut ya bisa dibilang kalang
kabut. Uang di saku sudah sangat sangat tipis. Mungkin makan mewahku
harus dikurangi, besok besok tidak perlu pakai tempe lagi, cukup
sayur. Es teh juga sepertinya tidak usah, cukup air bening.
Ada
satu hari yang sangat sangat aku ingat. Siang itu dengan riangnya aku
meninggalkan kampus MIPA selatan (milan) setelah kuliah usai. Dan
demi apa tiba tiba motorku oleng, melirik ke ban belakang dia
terlihat cukup menderita mengangkat beban tubuhku. Angin dengan
senyum lebar meninggalkan ban belakangku. Dengan terpaksa kali ini
aku yang harus berkeringat. Singkat cerita bannya sudah tidak bisa
ditambal. Aku juga sulit percaya, bahwa ban karet seperti itu bisa
terpotong. Dan parahnya lagi uang terakhir yang aku miliki adalah 15ribu, sedangkan biaya ganti ban adalah 36ribu.
Aku
cuma bisa terduduk lesu di sebelah tempat tambal ban, di pertigaan
selokan mataram. Uang tidak punya, HP juga tidak ada. Kalau mau tambal ban, makannya pakai apa? Kalau makan, motornya didorong?
Aku
juga tidak yakin kalaupun Maret berlalu aku bakal punya duit, untung
oksigen masih gratis.
20 Maret 2013
Cerita Bersambung: Untitled
-->
“Indah, kan?” celetuknya tanpa mengalihkan pandanganya dari langit
selatan Jogja, tetap asik sendiri dengan sesekali menyedot susu kotak
yang aku berikan. Aku tak sempat menjawab, hanya memberikan sebuah
anggukan lemah tanda setuju. Di sekelilingku memang hanyalah tanah
tandus kering kerontang yang banyak batu bersebaran dimana–mana.
Beberapa daun Jati yang kering juga menghiasi tanah bergerak kesana
kemari berjalan bersama angin, semakin menggambarkan betapa tandusnya
daerah ini. Aku terduduk di tepi aspal, bertopang dagu pada sebuah
pembatas jalan di tikungan tajam jalan antara Imogiri dan Panggang.
Sebuah pembatas jalan yang terlihat sudah sangat berpengalaman dengan
kerasnya hidup. Sudah compang camping disana–sini. Bisa saja
memang karena usianya ataupun banyak sekali pengendara yang teledor
dan menabrakkan motonya kesitu, tak terkecuali aku tentunya. Lupakan
sejenak keteledoranku tadi. Ini adalah pertama kalinya aku terduduk
disini, mengamati Wonosari dari ketinggian. Lampu–lampu perumahan
seakan akan berkolaborasi menimbulkan kerlip kerlip indah seakan–akan tengah bercerita tentang sesuatu. Sebuah background yang luar
biasa dalam pementasan itu, mega oren keemasan seakan – akan
memberikan dorongan untuk terus meraih sebuah kemenangan. Angin sore
itu juga berhembus lumayan kuat. Menerbangkan beberapa daun Jati,
menggantikan tugas seseorang untuk menyapu tepi jalanan itu,
menerbangan dedebuan yang kemudian menerpa wajahku.
“Bagian mana yang paling kamu suka?” tanyanya lagi dan menyadarkanku dari lamunan panjangku. “Kalau aku gedung tinggi yang
lampunya meriah itu, kata teman–temanku itu tempat main futsal,
hemm.. Kapan ya aku bisa main disana?” sambungnya lagi yang
menggambarkan betapa periangnya anak ini.
“Kalau aku,” mencoba berfikir sejenak, menunggu rangsangan dari
mataku yang disalurkan oleh neuron untuk sampai ke otak dan disalurkan kembali ke mulut. Kembali mengamati sekeliling, mencari–cari bagian yang memang aku sukai. “Aku suka tempat ini, suasana dan pemandangannya bagus” jawabku setelah proses yang cukup lama.
Aku tak begitu tertarik dengan tumpukan semen dan besi di tengah Wonosari itu, hampir setiap hari aku beraktifitas disana soalnya.
Memeras tenaga dan keringat.
“Eh tadi aku liat kamu main bolanya jago, biasa main dimana
emangnya?” aku mencoba mengambil inisiatif pembicaraan.
“Ahh... Nggak juga” jawabnya sembari mengalihkan pandangan,
menyembunyikan malu dariku “Biasanya aku main di depan rumahku
itu” dengan bangganya dia menunjukan sebidang tanah kosong di
depan rumahnya.
“Kalau mau besok kamu main ke gedung kesukaanmu itu aja, kita main
futsal bareng” kataku dengan masih tetap asik memandang ke
kejauhan.
“Eh… Tapi kan mahal kalau main di…”
“Udah besok pokoknya dateng aja ya, jam 3 sore” aku memotong
omonganya “Eh… Itu ayahku udah datang, bantuin aku naikin motor
ini ke mobil ya” sambungku lagi.
Inikah yang namanya takdir? Baru saja tadi sore aku berniat kabur
dari rumah. Mencoba melarikan diri dari semua tekanan yang aku
hadapi. Aku tak sempat berfikir panjang. Aku tarik gas sekencang–kencangnya menuju selatan. Terus, terus dan terus. Tak terasa
kumpulan air yang sedari tadi kutahan dalam mata menetes keluar. Aku
terbayang lagi ketika tadi untuk kesekian kalinya ayahku menampar
ibuku. Untuk sesaat sebuah rekaman ulang kejadian tadi seakan akan diputar kembali di depan mataku. Hatiku semakin marah. Aku sudah tidak
sadar kemana tujuan motor ini. Dan ketika aku tersadar aku sudah
terbaring di tanah tandus berbatu dan di depanku ada seseorang yang
seumuran denganku tengah menjugling bola. Sesekali dia melakukan
gerakan samba. Kegembiraan tergambar sekali diwajahnya, seakan akan
dia tengah bercanda dengan bola bututnya itu.
Bersambung...
Best gift in 18th
Sudut
matanya sempit, menggambarkan dengan jelas bahwa dia memiliki darah Asia. Kulitnya jernih layaknya orang–orang cina lainya. Wajahnya
cantik, cantik yang menentramkan hati. Dia juga sudah sangat dewasa
dalam usianya. Ini bukanlah kisah asmaraku. Ini adalah tentang gadis
mungil yang kutemui di kelas Kemipaan-10, gadis manis yang semanis
kayu manis.
Tak banyak yang kuketahui dari dirinya. Aku ada di barisan belakang bangku kuliah, sedangkan dia ada di baris depan bangku kuliah. Dia rajin mencatat, dan aku malas mencatat. Wajar kalau dia kebanjiran nilai A dan aku
kebanjiran nilai B atau malah C. Dia adalah orang yang paling
sabar se-MIPA, hehe. Aku tidak tau harus mengungkapkannya bagaimana.
Tapi dia adalah korban kejahilanku. Mau di dunia nyata ataupun di
dunia maya aku selalu saja menggodanya. Alasan? Terkadang tak perlu
alasan untuk melakukan sesuatu, bukan?
Awal pertemuanku
denganya bukanlah pertemuan yang spesial layaknya pertemuan pertama
antara Hawa dan Adam. Aku yang waktu itu memang sok kenal langsung
cap cis cus mengajak ngobrol dia. Meski ketika aku meminta nomor HPnya tidak diberi >.< tapi itu bukanlah masalah. Lama kelamaan
kita semakin dekat, dan aku pun kadang–kadang semakin jahil, dan
dia pun sepertinya sudah semakin sabar. Kadang–kadang kita juga
berbagi sedikit cerita soal nilai, keluarga, teman, bahkan asmara.
Apa yang membuat si Pemalas seperti aku mau membuang banyak kalori untuk menggerakan jari–jari, merangkai huruf–huruf agar sedikit memiliki makna,
hanya demi menggambarkan sosok dirinya?
9 Summers 10
Autumns: Dari kota Apel ke The Big Apple.
Adalah kado ulang
tahunku yang ke-18 darinya. Jujur selama hidupku jumlah kado yang aku
terima masihlah dapat dihitung dengan jari. Merayakan ulang tahun?
Jangankan untuk beli kue tar, beli beras buat besok saja harus mikir
dulu. Ya, hidupku tak semewah kebanyakan orang. Hidupku sederhana tapi
penuh warna. Aku tau rasanya lapar, aku tau rasanya kenyang. Aku tau
rasanya lelah bekerja, aku tau rasanya nikmat tidur setelah bekerja.
Aku tak pernah
berharap mendapat kado mewah, aku paham betul siapa diriku. Tapi apa
yang dia berikan padaku? Sebuah buku penuh inspirasi pembangkit
motivasi. Dia berdalih agar aku punya semangat untuk meraih mimpiku.
Tapi sekali lagi aku paham siapa diriku, manusia biasa bertabur dosa.
Tapi sekali lagi, tahukah kalian apa yang TUHAN berikan padaku? Ya,
tuhan memberiku seorang teman, tuhan memberiku kado terbaik di usia
18 tahunku, si Kayu Manis.
Yogyakarta,
Di tanggal yang
sudah lewat dari hari ulang tahunku.
29 Januari 2013
Tatapan Sendu Pada sang Bulan
Aku yakin bukan sebuah kebetulan bulan di malam ini terlihat indah, bukan seuah kebetulan pula aku tengah berada di Gunung Kidul, sebuah dusun terpencil di bagian selatan Jogja. Sebuah dusun yang sangat gersang, banyak daun Jati yang menghiasi bebatuan kapur tempatku berpijak. Aku yakin ini adalah sebuah takdir yang tuhan tunjukan padaku.
Bulan ini mengingatkanku pada tanggal itu, 19 Februari, aku agak buram soal tanggal, tapi itulah yang tergambar di ingatanku, 19 Februari 2012. Sebuah takdir pula lah yang membawaku ke puncak Bogor, dalam sebuah villa bersama sekitar 36 bulu bulu sayap sek4wan. Semua terekam dengan jelas. Peristiwa-peristiwa di tempat inilah yang merubahku secara keseluruhan. Tak perlu kuceritakan bagaimana diriku, bagaimana perubahan yang kualami. Belum saatnya pula aku bercerita tentang perjalananku di asrama. yang harus kalian tau bahwa di tempat ini aku berubah. Saat itu aku menangis tanpa paksaan, menangis dari hati, memaafkan dari hati, menerima dari hati, ya aku menerima pelukan 36 teman-teman sek4wan. Aku tak tau seperti apa bentuk wajahku saat itu, hujan yang sudah ku usahakan untuk tidak keluar justru pada akhirnya menjadi hujan deras dari mataku. Hujan yang memicu hujan-hujan lain, hujan dari temanku, teman yang merasakan apa yang kurasakan. Aku tak peduli bila ada yang menertawakan kami saat itu, itu adalah saat kami melepaskan semua beban, itu adalah saat kami memaafkan masa lalu kami, itu adalah saat kami berbagi sugesti untuk meraih cita-cita. Setiap orang yang meneriakkan cita-citanya maka akan kami teriakan YES dengan lantang, memberikan sebuah keberanian untuk terus bermimpi. Semustahil apapun mimpi itu.
Saat itu pulalah aku meneriakkan mimpiku, aku ingin mengunjungi luar angkasa. sebanyak 35 orang berteriak YES. Dan aku tau saat itu bahwa aku bisa melakukannya. Tanpa ragu aku memasang foto-foto luar angkasa dalam "dream book" milikku. Teman-temanku juga membuat sebuah dream book masing-masing. Menempel gambar mimpi-mimpi mereka. Kami sangat percaya bahwa kami bisa meraih mimpi-mimpi itu. Aku masih ingat di lembar pertamaku adalah mimpiku untuk kuliah di UNITEN Malaysia. Yang pada akhirnya tidak tercapai. Dan di lembar-lembar selanjutnya banyak terdapat gambar keindahan luar angkasa, bulan, Saturnus, Uranus, pesawat ulang alik, dan banyak lagi. Saat itu aku dengan bangga memegang dream book itu.
Lalu kini aku berusia 17 tahun 11 bulan, hampir tepat satu tahun sejak aku membuat dream book itu, dan dalam selama waktu itu pulalah keyakinanku akan mimpiku mulai terkikis. Keyakinanku akan mimpi-mimpiku mulai rontok satu persatu. Tidak ada lagi 35 orang yang merangkulku untuk meneriakan YES untuk setiap mimpiku. Kini aku hanyalah laki-laki yang kehilangan arah. Laki-laki yang tak tau bagaimana cara meraih mimpinya, laki-laki yang hanya mampu menatap bulan dengan sendu.
Gunung Kidul, 28 Januari 2013.
Bulan ini mengingatkanku pada tanggal itu, 19 Februari, aku agak buram soal tanggal, tapi itulah yang tergambar di ingatanku, 19 Februari 2012. Sebuah takdir pula lah yang membawaku ke puncak Bogor, dalam sebuah villa bersama sekitar 36 bulu bulu sayap sek4wan. Semua terekam dengan jelas. Peristiwa-peristiwa di tempat inilah yang merubahku secara keseluruhan. Tak perlu kuceritakan bagaimana diriku, bagaimana perubahan yang kualami. Belum saatnya pula aku bercerita tentang perjalananku di asrama. yang harus kalian tau bahwa di tempat ini aku berubah. Saat itu aku menangis tanpa paksaan, menangis dari hati, memaafkan dari hati, menerima dari hati, ya aku menerima pelukan 36 teman-teman sek4wan. Aku tak tau seperti apa bentuk wajahku saat itu, hujan yang sudah ku usahakan untuk tidak keluar justru pada akhirnya menjadi hujan deras dari mataku. Hujan yang memicu hujan-hujan lain, hujan dari temanku, teman yang merasakan apa yang kurasakan. Aku tak peduli bila ada yang menertawakan kami saat itu, itu adalah saat kami melepaskan semua beban, itu adalah saat kami memaafkan masa lalu kami, itu adalah saat kami berbagi sugesti untuk meraih cita-cita. Setiap orang yang meneriakkan cita-citanya maka akan kami teriakan YES dengan lantang, memberikan sebuah keberanian untuk terus bermimpi. Semustahil apapun mimpi itu.
Saat itu pulalah aku meneriakkan mimpiku, aku ingin mengunjungi luar angkasa. sebanyak 35 orang berteriak YES. Dan aku tau saat itu bahwa aku bisa melakukannya. Tanpa ragu aku memasang foto-foto luar angkasa dalam "dream book" milikku. Teman-temanku juga membuat sebuah dream book masing-masing. Menempel gambar mimpi-mimpi mereka. Kami sangat percaya bahwa kami bisa meraih mimpi-mimpi itu. Aku masih ingat di lembar pertamaku adalah mimpiku untuk kuliah di UNITEN Malaysia. Yang pada akhirnya tidak tercapai. Dan di lembar-lembar selanjutnya banyak terdapat gambar keindahan luar angkasa, bulan, Saturnus, Uranus, pesawat ulang alik, dan banyak lagi. Saat itu aku dengan bangga memegang dream book itu.
Lalu kini aku berusia 17 tahun 11 bulan, hampir tepat satu tahun sejak aku membuat dream book itu, dan dalam selama waktu itu pulalah keyakinanku akan mimpiku mulai terkikis. Keyakinanku akan mimpi-mimpiku mulai rontok satu persatu. Tidak ada lagi 35 orang yang merangkulku untuk meneriakan YES untuk setiap mimpiku. Kini aku hanyalah laki-laki yang kehilangan arah. Laki-laki yang tak tau bagaimana cara meraih mimpinya, laki-laki yang hanya mampu menatap bulan dengan sendu.
Gunung Kidul, 28 Januari 2013.
Langganan:
Postingan (Atom)




