23 Juli 2014

Mayat !

           

      Sepertinya aku masih ingin menulis, sepertinya aku masih ingin berkarya. Entah suatu kebetulan, atau memang takdir. Saat tubuhku akan mulai membusuk, daging - daging ku mulai rontok, seseorang datang, memberika obat. Mungkin obat ini belum ada dalam dunia kedokteran, obat yang mampu mengembalikan mayat hidup menjadi manusia. Ah, aku tidak paham dengan obat obatan kedokteran yang pahit dan memuakkan itu. Aku hanya paham akan obat yang saat ini tengah berproses mengobati diriku. Lihatlah, tanganku sudah bisa aku kendalikan lagi, lihatlah aku sudah mampu merangkai beberapa huruf menjadi paraghraf yang dapat dimengerti. Ah, lihatlah... aku hampir sembuh. meski belum semua bagian tubuhku kembali seperti semula. 

"Manusia yang hidup tapi tak memiliki mimpi hanyalah mayat yang seolah - olah hidup."



      Dapatkah kamu menduga obat apa yang diberikan oleh temanku? 


Redo

Yang ketika menulis sedang terobsesi Conan!

3 Juni 2014

The END



    Gelas yang tadinya berisikan teh hijau ini telah kering sekarang. gelas yang telah menemaniku selama beberapa saat itu. membuang sedikit kantuk ku dan membantuku menulis tulisan ini. Semua memang akan sampai pada kata END, berakhir, apapun itu.
   Begitu juga dengan blog ini. kurang lebih blog ini sudah menjadi tempat untuk ku menuangkan beberapa keluh - kesahku tentang mimpi. Waktu itu 27 Oktober 2012 lah pertama kalinya aku menulis dalam blog ini, awalnya adalah untuk membentuk sebuah kenangan. Namun pada akhirnya hanyalah menjadi bentuk narsisme dan keinginan untuk diakui. Tak ada sedikitpun tujuan mulia, semoga beberapa tulisan yang telah kutulis sampai saat ini dapat memberi manfaat. terimakasih sudah membaca, semoga harimu menyenangkan. 
    Dengan ini blog mimpimimpiredo telah resmi ditutup, telah sampai pada the END, END ? Tenang, sesuatu berakhir dan pasti sesuatu akan dimulai, begitulah alam. 

23 Maret 2014

Hakikat Manusia


     Biasa. Semua masih biasa. Matahari masih setia dengan jalurnya, terbit untuk menghiasi cakrawala dari timur, untuk kemudian kembali ke peraduannya di barat. Hujan masih turun ke bawah, membawa dedebuan bersamanya. Bendera parpol yang seperti pelangi pun masih senantiasa berkibar tiada henti. Ladang padi pun masih senantiasa hijau, para petani masih harus bersabar, belum waktunya panen.

    Namun ada yang berbeda. Sedikit. Ya, perbedaanya hanya terletak di bibir, matahari masih terbit seperti biasanya, namun saat matahari terbit aku tersenyum. Hujan mungkin turun seperti biasa, cuma kali ini aku tersenyum. Bendera parpol juga membuatku tersenyum. Melihat ladang padi yang luas? Aku tersenyum lebar. Ya, semua membawa senyuman padaku.

    Matahari terbit, menandakan dia akan segera bangun. Hujan? Dia berujar dia suka hujan. Bendera parpol? Ya bendera parpol merah lah yang kugunakan untuk menandai gang menuju rumahnya. Ladang padi yang luas? Ya, itu pemandangan indah dari sekitar rumahnya. 

     Aku tersenyum. Bahagia? Mungkin. Karena pada faktanya aku tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan. Terkadang sedih, namun kadang berujung senyuman. Yah, dia. Seseorang yang di luar jangkauanku, temanku. Yah, mungkin inilah yang membedakan antara cinta dan nafsu. Cinta sudah seharusnya bahagia, ia tidak dibumbui nafsu untuk memiliki. Ataukah pemahamanku yang kurang? Namun memang begitulah hakikat manusia, belajar. Jadi, Tuhan..., izinkan aku mengenal cinta lebih jauh.

20 Maret 2014

Smile, Please!




      Yeah, sure. I'll always smile for you, but there'll be a time that i'll be disappear. The time when i see your sweetest smile. Smile of happiness, happiness from deep inside your heart. You must be happy, Fire!

Menghibur Diri, Mungkin


14 Maret 2014

Cara Terbaik Menikmati Kopi Tanpa Gula



Berbicara tentang kopi. Dia adalah teman. Serbuk hitam dengan aroma menggelitik hidung yang bila di guyur air panas. Tanpa gula karena ini akhir bulan. Mungkin kebanyakan orang akan langsung bergidik kepahitan. Kopi itu menusuk – nusuk indra perasanya. Panas juga membakar lidah mereka. Kopi itu tidak bersahabat dengan kabanyakan orang. Tapi dia bersahabat denganku. Dia menemaniku menghabiskan malam. Menemaniku melawan angin yang  menari di sekujur tubuhku. Menyelimutiku dari dinginnya malam di kawasan bogor pelosok, di sebuah asrama khusus cowok. Iya, dia adalah temanku menunggu FC Bayern Munchen yang akan memperjuangkan kehormatannya di lapangan hijau sana.
Aku agak buram soal pertandingan malam itu. Itu adalah tiga tahun lalu. Tepatnya di babak 16 besar liga champions. Para ksatria bavaria akan berjuang membalaskan dendam di final 2010. Medan perang yang sangat sulit waktu itu, Giuseppe Meazza. Inter milan sang lawan waktu itu masih dalam masa jayanya, meski baru ditinggal induknya. Sekali lagi itu adalah medan perang yang sulit bagi para ksatria bavaria. Badanku tak hentinya merinding, adrenalin mengalir keseluruh tubuh.   Dalam hati aku terus berdoa, semoga para idolaku disana mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, juga semoga para pembina asrama tertidur lelap malam ini. Iya. Bukan hal mudah untuk bisa menyaksikan pertandingan itu.
Aku tinggal di asrama, dengan sembilan orang pembina asrama yang lebih pantas disebut malaikat pencabut nyawa. Hanya ada satu televisi di asramaku, tepat di tengah – tengah koridor asrama. Dia nyaman tebungkus sebuah box dari besi yang tidak tembus pandang. Untuk menontonnya di luar jam “diperbolehkan” menonton tv aku harus berdiri di atas meja, membuka paksa tutup nya dan mengganjalnya dengan sikat cucian. Bukan perkara yang mudah,  juga tentu saja para pembina asrama yang bisa berkeliaran sepanjang waktu memastikan para anak didiknya sudah tidur. Yang selalu siap menangkap siapa saja yang masih berkeliaran, apalagi menonton tv secara illegal, sudah pasti besoknya rambut di kepalanya hanya tinggal beberapa milimeter. Iya, ini tentang perjuangan.
Malam itu cukup dingin, lagu khas liga champions telah berputar. Pemain – pemain keluar menuju lapangan. Aku berdiri di atas meja, mengintip dari samping kedalam televisi. Para kstatria bavaria mengenakan baju perang bergaris – garis, merah dan putih. Penuh keberanian melawan para pasukan ular biru hitam. Aku berdiri selama hampir sembilan puluh menit. Kecuali saat half time tentunya. Dalam pertandingan itu aku hanya bersorak sekali, saat Mario gomez memasukan bola ke jala Inter setelah meneruskan tendangan Robben yang masih mampu ditepis Julio cesar. Bangga. Perasaan yang aku rasakan waktu itu. Rasanya seperti bisa memaksa orang – orang yang menghina Munchen saat itu menjilat ludahnya yang mulai mengering ditanah. Munchen mampu membalaskan dendam. Mengalahkan inter milan di rumah mereka.
Aku kembali ke kamar. Meneguk kopi yang masih tersisa di gelas. Kemudain teman sekamarku terbangun. Menyerobot kopiku dan meminumnya.

“BRRTT... Jancuuuk...!!!” pekiknya sembari memuntahkan kopi yang baru diseruputnya sedikit itu. Iya kopi itu memang pahit. Kopi tanpa gula. Tapi sekali lagi aku katakan. Kopi itu terasa begitu nikmat di lidahku. Tak perlu gula dari perasan tebu hasil para petani. Kemenangan Munchen malam itu adalah gula bagiku. Suatu substrat yang mengubah sesuatu yang amat sederhana menjadi sebuah kemewahan. Sebuak kenikmatan. Ya inilah ceritaku yang menikmati pertandingan FC Bayern Munchen dalam kesederhanaan. Inilah caraku menikmati kopi hitam tanpa gula.

Tulisan ini dimuat di SuaraFans dan mendapat peringkat ke-3 dalam lomba menulis tersebut.