17 Desember 2012

Dongeng Cinderella Pengantar Tidur Siang oleh DOSEN...


Sangat tidak nyaman kursi ini, di tambah lagi keributan di ruang kuliah ini, sangat tidak mendukung untuk tidur. Tapi semua itu tidaklah menghalangi mataku untuk tetap terpejam, meski sesekali terbuka lagi tapi hanyalah sekilas karena di kagetkan tawa teman disebelahku. Ini bukan yang pertama kali terjadi dalam kuliahku, sudah puluhan malah ratusan kali kayaknya aku terbang menuju alam mimpi di saat dosen berdongeng di depan kelas. Hehehe…, terkadang aku heran sendiri, ketika kuliah sudah menunjukan sinyal – sinyal mau selesai ngantuk yang sedari tadi bercumbu dangan tubuhku mendadak lenyap.

Aku masih inget loh, dulu…, duluuuuu banget. Waktu itu bapak ku yang super galak >.< nyuruh aku tidur siang. Yah namanya masih anak imut lucu bin nggemesin aku nurut aja masuk ke kamar dan pura pura tidur dengan pules. Tetapi berbeda dengan otak ku, otak k uterus berfikir gimana caranya biar aku bisa pergi keluar dan main bareng temen – temenku. Kemarin aku udah pergi lewat jendela dan hasilnya sekarang jendelanya udah terkunci rapat. Nah…! Akhirnya aku nemu ide bagus.

“Pak…, kebelet pipis ki,” kataku yang masih imut dulu dengan pasang wajah ngantuk dan rambut acak – acakan, khas bangun tidur.
“Yo kono neng kamar mandi,” kata bapak ku sambil tetap terduduk di depan pintu menikmati beberapa batang rokok “Nek wes rampung turu meneh!” katanya lagi.

Yeeeyy…, rencanaku bakal berhasil kayakya ini. Aku bukanya masuk ke kamar madi malah lari ke kebun belakang, ala film Indiana Jones gitu aku menerobos semak – semak. Melompat – lompat layaknya dalam film perang gitu, dan tentu saja dengan perasaan super senang layaknya sudah mencetak gol penentu kemenangan Indonesia di final piala dunia. Ah lebay banget…, pokoknya begitudah ekspresiku, seneng dan semangat bisa main. Hehee.

Setelah menerobos semak sampelah aku di pekarangan tetanggaku. Aku sudah mulai berjalan santai sembari besiul – siul. Menghitung kembali kelereng yang aku bawa dari rumah tadi, untuk di adu dengan teman – temanku disana. Dan JREENG.

“Loh…, ngopo koe neng kene Do?” kata bapak ku yang entah dia itu paranormal yang bisa membaca pikiran atau bagaimana, tetapi dia justru sudah sampe lokasi tempat main teman – temanku lebih dulu.
Week percuma banget tadi aku gaya – gayaan kayak Indiana jones dong >.< . yah dengan berat hati untuk kesekian kalinya aku harus mengalah( KO ) sama bapak ku. Berjalan gontai kerumah dan tidur lagi dikasur. Tetapi mau dipaksa bagaimanapun mata ini tetap tak mau terpejam, udah ke 348 domba jelek milik pak tani yang aku hitung tapi tetap saja aku tak bisa terlelap.

Yah itulah masa lalu, selalu terlalu indah untuk di kenang. Aku juga masih ingat kok betapa kerenya aku dalam perjalanan pulang waktu itu. Berjalan dengan kepala agak di miringkan sebelah ( di jewer kuping kananku soalnya ) dan dengan efek hujan rintik rintik gitu (baca: nangis). Hahaa namanya juga anak kecil ya kan? Aku jadi mulai berfikir. Coba dulu waktu kecil aku habisin kuota tidur siangku, pasti sekarang aku ga bakal terkantuk – kantuk di jam kuliah gini. >.<

Coba dulu gue nurut sama bapak ku ya, pasti bapak ku sekarang gak bakal ngingetin supaya gak tidur pas kuliah lagi. Coba aku dapet se semangat aku waktu masih kecil. Hemm…, banyak “coba – coba” lain yang muncul satu persatu dalam otak ku. Banyaaak sekali. Tapi itu ya memang cuma masa lalu. Dan aku sudah hidup dimasa kini. Eh… coba masa lalu itu masa kini, tapi nanti masa kini jadi masa kapan? Ah malah pusing aku. Sudah lah nikmati sajalah tidur sambil di dongengin dosen. #eh…

7 Desember 2012

Sebuah pementasan drama kehidupan di langit MIPA selatan UGM


Sepeti biasa aku memilih duduk di pojokan bangku kelas. sedikit mengasingkan diri dari keramaian kelas. seperti biasa pula aku keluarkan sebuah buku catatan yang sudah aku siapkan. aku kibaskan kesana kemari untuk mengusir panas dari tubuhku. 30 menit kira - kira perjalananku dari kosan menuju kampus mipa selatan. wajar jika aku berkeringat karena pulang pergi kuliah aku hanya bermodal kemampuan kaki ini. seperti biasa aku selalu melihat keluar jendela atau malah asik sendiri. beberapa orang mencoba mengajak bicara, tapi ya memang aku tidak bisa berkonsentrasi. mataku cuma tertuju pada langit yang seakan paham apa yang terjadi. Seperti biasa juga dia ada disana. terkadang aku meliriknya terkadang pula aku memandang kearahnya. dosen hanyalah sebuah dongeng pengantar tidurku. ya mungkin beberapa dari merekalah yang menjadi motivasiku masuk kelas. selain absen pastinya.  sebuah kebiasaan yang mungkin sebuah ketidak bersyukuranku.ketika aku mulai berfikir. seakan - akan awan itu menampilkan rekaman gambar -gambar jalan kehidupanku. dari ketika aku masih menjadi anak bandel di SD hingga menjadi bagian dari sayap sayap sek4wan. semua terlintas dan mengingatkanku lagi tentang alasan mengapa aku duduk di kursi ini. kursi ruang S 2.03 mipa selatan kampus UGM.

Betapa seringnya dulu orangtuaku menyampaikan nasehat ini, betapa itu dulu selalu bisa memotivasiku untuk terus menjadi yang terbaik. dulu sempat aku selalu menggandeng buku fisika kemana - mana. seakan akan dunia hanyalah milik ku dan buku fisika. memang hasilnya sedikit manis sebuah medali olimpiade. tapi itu tetap tidak memberikan sebuah kepuasan. sebuah kekosongan tetap melanda. aku ingat betul juga waktu itu. ketika aku mulai malas. nilai - nilaiku semuanya ajnlok bahkan try out snmptn ku termasuk yang paling rendah. sebuah penyadaran kembali bahwa dengan passing grade itu aku hanya bisa masuk jurusan ecek ecek di universitas antah berantah. lagi lagi kata kata itulah yang memberiku motivasi untuk berjuang di sisa waktu yang aku punya. handphone yang biasanya aku selundupkan di asrama pun bahkan aku serahkan kepada guruku. aku benar benar serius saat itu.

Ya..., hasilnya tidak lah buruk. dengan nilai un yang cukup memuaskan yah emang hanya kisaran 85 tapi itu adalah perjuangan ku sendiri. tak ada embel - embel menconek. dan dengan usaha itulah aku bisa duduk disini. ruang S 2.03 mipa selatan. dulu betapa bahagianya saat pengumuman, kami melompat -lompat. bahkan kedua orang tuaku menangis. ya ini memang sebuah sejarah baru dalam silsilah keluagaku. lalu ketika aku duduk di kursi ini perasaan itu kembali hadir. sebuah kekosongan.Perdebatan dalam diriku sering terjadi tentu saja perdebatan tanpa hasil. sempat terbesit aku ingin jadi aktivis dengan ikut berbagai organisasi penggerak. tapi sepertinya itu bukan gayaku. aku mencoba mencari sebuah passion baru dalam diriku tapi memang tidaklah mudah. aku hanya menemukan sebuah pertanyaan - pertanyaan baru yang hanya membuatku terbengong seperti saat ini. ya aku memutuskan biarlah waktu yang menjawab. aku akan melakukan seperti biasanya. duduk disini dengan sesekali melihat dia dan sesekali menatap awan yang menaungi mipa selatan. huff...  menikmati drama drama lain yang di tampilkan langit biru MIPA selatan.

6 Desember 2012

"Ini masa SMP kita loh Kak..., SMP kaka gimana?? "

5 Desember 2012

     Rerintik hujan yang mengguyur kota pendidikan tidak menghalangiku untuk berbagi sedikit ilmu. bersama mas Afian seorang pejuang hebat dari teknik mesin UGM kami menerobos rerintik yang sudah berubah menjadi guyuran hujan, menuju belakang Amplas. sebuah tempat sedikit kumuh di bawah jembatan. sangat kontras terlihat dengan kemewahan yang terpapar di daerah Amplas. Amatlah sederhana di sini.

     Yaa... malam ini aku bersama mbak Septi dan mbak Fitri memiliki sebuah tanggung jawab untuk berbagi Ilmu dengan anak - anak di sekitar belakangan Amplas. Malam ini pulalah justru aku yang menjadi seorang murid. memang tidak sesuai dengan rencana. kami datang dengan niat untuk menjejalkan rumus rumus matematika kepada mereka, namun dengan berbagai alasan mereka berkilah. yang besok ulanganya Al-quran hadis lah... hingga ulangan bahasa inggris. bukan perkara mudah bagi seorang bukan ustad sepertiku untuk menjelaskan prihal Agama... Yang ada kita hanya bercerita ngalor ngidul tanpa tau maksud dan tujuan.

     Murid - muridku pun bukan anak anak normal biasa yang mau nurut dengan semua perkataan gurunya. >.< ya mereka murid murid paling lucu yang pernah ku ajar. semuanya kaum hawa, ada Tata, Siti, dan tiga orang lagi aku lupa namanya. tapi yang jelas aku ingat muka merekah( hahaha bukan guru yang baik).. lalu apa yang mereka ajarkan padaku malam ini?

      Ceritanya begini, Anggep saja namanya bunga(aku lupa namanya). ini kisah nyata loh. mungkin takdir atau musibah haha. jadi dia lagi punya masalah sama cowo nya.. pokoknya mereka lagi berantem gitu dah. jangan di bayangin mereka lagi jambak - jambakan. maklum mereka masih SMP pacaranya pun hanya sebatas pacaran lewat HP. ketika bertemu dangan orang aslinya hanyalah jurus diam seribu bahasa. 

     Lanjut ke cerita, jadi kira kira dia udah bilang pengen putus. tapi cowownya ternyata gak terima. >.< Lalu dimulailah perang sms mereka. aku ga tau dapet ilmu dari mana tapi cowok ini jago banget bikin kata - kata. mulai mengangkat soal prasaan bla bla bla gtu dah. dan aku justru bertanya - tanya, ini cowok apa cewek sih yang sms?? (dan aku bukanya mikirin cara mengkondisikan mereka buat belajar, malah ikut nimbrung hehehe) then pada akhirnya mereka resmi putus setelah aku cek lebih jauh ternyata mereka baru pacaran 1 MINGGU... WHAT?? jago bener ya dalam seminggu udah cerai aja >.< kemaren waktu nerima dia apa yang dia pikirin? trus di akhir - akhir sms mereka malah maki - makian. ya si cewek kayaknya ngirim satu kata yang aku kasih "kfcu(baca: FUCK)".. hahaha jadilah mungkin aku penyebabnya,... >.< Ya dia udah move on ternyata setelah putus (secepat itukah??) dan aku pikir pelajaran udah dapat dimulai lagi.. :) 

     Namun semua selalu tidak sesuai dengan skenario. si bungga itu malah di ledekin temen temen nya, dan dia justru bales ngeledek si Tata yang katanya abis putus juga dan malah ngegalau naik turun mainan lift amplas.. >.< (besok aku mau coba pas galau mau mainan lift juga :) ) lalu dia juga merengek - rengek ke semua orang yang terlihat alim (saya tidak termasuk) untuk minta doa supaya gak kena karma. hahaa. malah semakin rame acara belajar kali ini. dan aku juga masih sulit untuk mencoba menerangkan tentang Mad silah. 

     Walau mas Afian yang sudah lebih dewasa pemikiranya terkadang menengahi candaan luar biasa di tengah guyuran air alami itu. tapi tetap saja menyenangkan memiliki murid seperti mereka. teringat masa SMP ku dulu, penuh warna ( baca : HITAM ) ya soalnya SMP ku di ASRAMA. aku gak pernah ngerasain hal hal unik begitu. tidak ada yang namanya pelayaran cinta ke berbagai pelabuhan. hahaha setidaknya murid muridku mengajari aku tentang kehidupan SMP yang tidak aku dapatkan. Terimakasih ya, Tata dan kawan - kawan.