26 September 2014

Ada Pelajaran di Balik Getah

Waktu terasa bergulir begitu cepat, bergulung - gulung meninggalkan aku dengan laptop bututku terkurung di kamar gelap di ujung rumah. Waktu seakan tanpa permisi hanya berlalu begitu saja, atau mungkin waktu sudah menyapa hanya aku saja yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Tenggelam dalam semangat memenangkan trofi Liga Champions dalam game Football Manager, terkadang juga hanyut dalam arus persahabatan Natsu dan kawan – kawannya di Guild Fairy Tail. Aku tenggelam dalam duniaku, dalam aliran waktuku sendiri, sehingga tanpa dirasa dunia luar telah begitu banyak berubah. Dari kelangkaan BBM, hingga kelangkaan gas 3 kg, bahkan tentang RUU Pilkada, semua berlalu tanpa sempat aku menyadari. Informasi hanya masuk kepadaku melalui obrolan beberapa bapak - bapak yang hampir selalu nongkrong di angkringan Pak Mamad di selokan mataram. Layaknya sekarang ini, aku mencoba menyapa dunia luar, mencoba kembali mengikuti aliran waktu orang –orang, aku tengah duduk tepat dipinggir selokan, memandangi pegawai – pegawai yang tengah mengerjakan jalan baru, sembari menikmati beberapa nasi kucing dan beberapa tusuk sate usus, sesekali juga menyeruput es tape yang tentu sangat nikmat.

Aku ingat sekali beberapa waktu lalu, tepat disaat kelangkaan BBM terjadi di Yogyakarta, atau bahkan Indonesia. Ada sebuah peristiwa yang sangat menghebohkan Indonesia saat itu. Ceritanya sederhana, hanya karena kesalahpahaman seorang gadis -sebut saja Bunga- yang ingin membeli bensin pertamax di salah satu pom bensin di Yogyakarta, tetapi Bunga tidak tahu bahwa dia menyerobot antrian, Bunga mengira antrian panjang di pom bensin tersebut adalah untuk mendapatkan bensin premium dan Bunga tidak tahu bahwa ternyata antrian panjang itu juga untuk mendapatkan pertamax. Namun kemudian yang membuat semua terkesan lebih heboh adalah ungkapan nya di media sosial, yang bisa dibilang melecehkan Yogyakarta.

Aku juga ingat sekali waktu itu, aku tengah duduk seperti ini, yang membedakan, disebelahku ada 3 bapak - bapak yang juga tengah menikmati minuman mereka. Mereka berbicara banyak hal, mulai dari pertandingan bola, hingga bisnis burung mereka, hingga pada akhirnya mereka tertarik membicarakan kasus Bunga yang saat itu tengah hangat – hangat nya.

"Jebule sekolah duwor - duwor urung tentu iso dadi wong apik,"
(Ternyata sekolah tinggi – tinggi belum tentu bias jadi orang baik)
"Lha yo pancen tenan lek, wong pinter neng goblok,"
(Betul itu mas, pinter tapi juga bodoh)
"Pinter neng goblok pie maksud mu?"
(Pinter tapi bodoh itu maksudmu apa?)
"Lha pinter, wong jenenge cah UGM, neng jebule kelakuane goblok,"
(Yap inter orang namanya kuliah di UGM, tapi ternyata kelakuannya kayak orang bodoh)
"Wah bener kui, paling ugm mek ngajari ilmu umum, neng ora ngajari tata krama, duh pie nasib Indonesia ngarepe iki,"
(Weh benar itu, paling UGM hanya mengajarkan ilmu umum, tetapi tidak mengajarkan tata krana, duh gimana nasib Indonesia kedepannya ini)

Begitulah kira – kira percakapan yang terjadi. Aku yang kebetulan mahasiswa UGM dan kebetulan duduk di sebelah mereka bertiga hanya mampu menelan ludah. Hilang sudah rasa es tape yang biasanya nikmat, kini hambar. Rasanya ingin mendebat mereka, namun ribuan kata - kata yang tersusun seolah - olah ikut tertelan bersama es tape yang ku minum.
Aku hanya merasa kok tak pantas semua unsur UGM disalahkan, hanya karena kelakuan Bunga. Banyak mahasiswa baik - baik yang sering memperjuangkan hak - hak rakyat juga, ada juga mahasiswa yang meski jarang kuliah-sebut saja aku- namun memiliki perilaku baik. Rasanya semua unsur itu terhapus, semua menanggung akibat perbuatan si Bunga. Kepercayaan masyarakat luntur kepada UGM, mungkin. Hal ini tak cuma terdengar di angkringan, terkadang di warung burjo, terkadang warung - warung prasmanan juga. 
       Mungkin inilah rasa sebenarnya dari peribahasa GUPAK PULUTE ORA MANGAN NANGKANE. Peribahasa ini dapat diartikan tentang kesialan seseorang yang padahal tidak ikut menikmati sesuatu, tapi menerima resiko ataupun akibat. Bunga panen nangka, tentu Bunga terkenal dimana – mana, banyak masuk stasiun TV-meski bukan niat awalnya-, kalaupun dia terkena getah itu wajar karena Bunga yang memanen dan mungin memakan nangkanya. Akan tetapi aku yang biasanya hanya berdiam diri di dalam kamar juga tiba - tiba terkena getah, getah dari nangka yang dipanen oleh si Bunga. 

       Tapi tahukah bahwa dibalik "getah" itu juga terselip sebuah pelajaran berharga? Bukankah sebaik – baik manusia adalah manusia yang mampu bermanfaat untuk banyak orang? Ataupun minimal lingkungannya? Nah sudah seharusnya kita -yang ingin menjadi manusia baik- berusaha untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Kalaupun tidak bisa, setidaknya tidak merepotkan atau menyusahkan orang lain, tidak menempel getah kesana kemari. Aku juga belajar, meskipun aku belum mampu memberi manfaat pada orang lain, setidaknya aku tak ingin menysahkan orang lain. Tetapi aku juga mau mencoba untuk bermanfaat untuk orang lain, aku mau masuk ke dalam aliran waktu bersama orang - orang. Baik di depan laptop butut ku, maupun diluar aliran waktuku. Semoga tulisan ini bermanfaat.