7 Desember 2012

Sebuah pementasan drama kehidupan di langit MIPA selatan UGM


Sepeti biasa aku memilih duduk di pojokan bangku kelas. sedikit mengasingkan diri dari keramaian kelas. seperti biasa pula aku keluarkan sebuah buku catatan yang sudah aku siapkan. aku kibaskan kesana kemari untuk mengusir panas dari tubuhku. 30 menit kira - kira perjalananku dari kosan menuju kampus mipa selatan. wajar jika aku berkeringat karena pulang pergi kuliah aku hanya bermodal kemampuan kaki ini. seperti biasa aku selalu melihat keluar jendela atau malah asik sendiri. beberapa orang mencoba mengajak bicara, tapi ya memang aku tidak bisa berkonsentrasi. mataku cuma tertuju pada langit yang seakan paham apa yang terjadi. Seperti biasa juga dia ada disana. terkadang aku meliriknya terkadang pula aku memandang kearahnya. dosen hanyalah sebuah dongeng pengantar tidurku. ya mungkin beberapa dari merekalah yang menjadi motivasiku masuk kelas. selain absen pastinya.  sebuah kebiasaan yang mungkin sebuah ketidak bersyukuranku.ketika aku mulai berfikir. seakan - akan awan itu menampilkan rekaman gambar -gambar jalan kehidupanku. dari ketika aku masih menjadi anak bandel di SD hingga menjadi bagian dari sayap sayap sek4wan. semua terlintas dan mengingatkanku lagi tentang alasan mengapa aku duduk di kursi ini. kursi ruang S 2.03 mipa selatan kampus UGM.

Betapa seringnya dulu orangtuaku menyampaikan nasehat ini, betapa itu dulu selalu bisa memotivasiku untuk terus menjadi yang terbaik. dulu sempat aku selalu menggandeng buku fisika kemana - mana. seakan akan dunia hanyalah milik ku dan buku fisika. memang hasilnya sedikit manis sebuah medali olimpiade. tapi itu tetap tidak memberikan sebuah kepuasan. sebuah kekosongan tetap melanda. aku ingat betul juga waktu itu. ketika aku mulai malas. nilai - nilaiku semuanya ajnlok bahkan try out snmptn ku termasuk yang paling rendah. sebuah penyadaran kembali bahwa dengan passing grade itu aku hanya bisa masuk jurusan ecek ecek di universitas antah berantah. lagi lagi kata kata itulah yang memberiku motivasi untuk berjuang di sisa waktu yang aku punya. handphone yang biasanya aku selundupkan di asrama pun bahkan aku serahkan kepada guruku. aku benar benar serius saat itu.

Ya..., hasilnya tidak lah buruk. dengan nilai un yang cukup memuaskan yah emang hanya kisaran 85 tapi itu adalah perjuangan ku sendiri. tak ada embel - embel menconek. dan dengan usaha itulah aku bisa duduk disini. ruang S 2.03 mipa selatan. dulu betapa bahagianya saat pengumuman, kami melompat -lompat. bahkan kedua orang tuaku menangis. ya ini memang sebuah sejarah baru dalam silsilah keluagaku. lalu ketika aku duduk di kursi ini perasaan itu kembali hadir. sebuah kekosongan.Perdebatan dalam diriku sering terjadi tentu saja perdebatan tanpa hasil. sempat terbesit aku ingin jadi aktivis dengan ikut berbagai organisasi penggerak. tapi sepertinya itu bukan gayaku. aku mencoba mencari sebuah passion baru dalam diriku tapi memang tidaklah mudah. aku hanya menemukan sebuah pertanyaan - pertanyaan baru yang hanya membuatku terbengong seperti saat ini. ya aku memutuskan biarlah waktu yang menjawab. aku akan melakukan seperti biasanya. duduk disini dengan sesekali melihat dia dan sesekali menatap awan yang menaungi mipa selatan. huff...  menikmati drama drama lain yang di tampilkan langit biru MIPA selatan.