23 Maret 2014

Hakikat Manusia


     Biasa. Semua masih biasa. Matahari masih setia dengan jalurnya, terbit untuk menghiasi cakrawala dari timur, untuk kemudian kembali ke peraduannya di barat. Hujan masih turun ke bawah, membawa dedebuan bersamanya. Bendera parpol yang seperti pelangi pun masih senantiasa berkibar tiada henti. Ladang padi pun masih senantiasa hijau, para petani masih harus bersabar, belum waktunya panen.

    Namun ada yang berbeda. Sedikit. Ya, perbedaanya hanya terletak di bibir, matahari masih terbit seperti biasanya, namun saat matahari terbit aku tersenyum. Hujan mungkin turun seperti biasa, cuma kali ini aku tersenyum. Bendera parpol juga membuatku tersenyum. Melihat ladang padi yang luas? Aku tersenyum lebar. Ya, semua membawa senyuman padaku.

    Matahari terbit, menandakan dia akan segera bangun. Hujan? Dia berujar dia suka hujan. Bendera parpol? Ya bendera parpol merah lah yang kugunakan untuk menandai gang menuju rumahnya. Ladang padi yang luas? Ya, itu pemandangan indah dari sekitar rumahnya. 

     Aku tersenyum. Bahagia? Mungkin. Karena pada faktanya aku tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan. Terkadang sedih, namun kadang berujung senyuman. Yah, dia. Seseorang yang di luar jangkauanku, temanku. Yah, mungkin inilah yang membedakan antara cinta dan nafsu. Cinta sudah seharusnya bahagia, ia tidak dibumbui nafsu untuk memiliki. Ataukah pemahamanku yang kurang? Namun memang begitulah hakikat manusia, belajar. Jadi, Tuhan..., izinkan aku mengenal cinta lebih jauh.

20 Maret 2014

Smile, Please!




      Yeah, sure. I'll always smile for you, but there'll be a time that i'll be disappear. The time when i see your sweetest smile. Smile of happiness, happiness from deep inside your heart. You must be happy, Fire!

Menghibur Diri, Mungkin


14 Maret 2014

Cara Terbaik Menikmati Kopi Tanpa Gula



Berbicara tentang kopi. Dia adalah teman. Serbuk hitam dengan aroma menggelitik hidung yang bila di guyur air panas. Tanpa gula karena ini akhir bulan. Mungkin kebanyakan orang akan langsung bergidik kepahitan. Kopi itu menusuk – nusuk indra perasanya. Panas juga membakar lidah mereka. Kopi itu tidak bersahabat dengan kabanyakan orang. Tapi dia bersahabat denganku. Dia menemaniku menghabiskan malam. Menemaniku melawan angin yang  menari di sekujur tubuhku. Menyelimutiku dari dinginnya malam di kawasan bogor pelosok, di sebuah asrama khusus cowok. Iya, dia adalah temanku menunggu FC Bayern Munchen yang akan memperjuangkan kehormatannya di lapangan hijau sana.
Aku agak buram soal pertandingan malam itu. Itu adalah tiga tahun lalu. Tepatnya di babak 16 besar liga champions. Para ksatria bavaria akan berjuang membalaskan dendam di final 2010. Medan perang yang sangat sulit waktu itu, Giuseppe Meazza. Inter milan sang lawan waktu itu masih dalam masa jayanya, meski baru ditinggal induknya. Sekali lagi itu adalah medan perang yang sulit bagi para ksatria bavaria. Badanku tak hentinya merinding, adrenalin mengalir keseluruh tubuh.   Dalam hati aku terus berdoa, semoga para idolaku disana mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya, juga semoga para pembina asrama tertidur lelap malam ini. Iya. Bukan hal mudah untuk bisa menyaksikan pertandingan itu.
Aku tinggal di asrama, dengan sembilan orang pembina asrama yang lebih pantas disebut malaikat pencabut nyawa. Hanya ada satu televisi di asramaku, tepat di tengah – tengah koridor asrama. Dia nyaman tebungkus sebuah box dari besi yang tidak tembus pandang. Untuk menontonnya di luar jam “diperbolehkan” menonton tv aku harus berdiri di atas meja, membuka paksa tutup nya dan mengganjalnya dengan sikat cucian. Bukan perkara yang mudah,  juga tentu saja para pembina asrama yang bisa berkeliaran sepanjang waktu memastikan para anak didiknya sudah tidur. Yang selalu siap menangkap siapa saja yang masih berkeliaran, apalagi menonton tv secara illegal, sudah pasti besoknya rambut di kepalanya hanya tinggal beberapa milimeter. Iya, ini tentang perjuangan.
Malam itu cukup dingin, lagu khas liga champions telah berputar. Pemain – pemain keluar menuju lapangan. Aku berdiri di atas meja, mengintip dari samping kedalam televisi. Para kstatria bavaria mengenakan baju perang bergaris – garis, merah dan putih. Penuh keberanian melawan para pasukan ular biru hitam. Aku berdiri selama hampir sembilan puluh menit. Kecuali saat half time tentunya. Dalam pertandingan itu aku hanya bersorak sekali, saat Mario gomez memasukan bola ke jala Inter setelah meneruskan tendangan Robben yang masih mampu ditepis Julio cesar. Bangga. Perasaan yang aku rasakan waktu itu. Rasanya seperti bisa memaksa orang – orang yang menghina Munchen saat itu menjilat ludahnya yang mulai mengering ditanah. Munchen mampu membalaskan dendam. Mengalahkan inter milan di rumah mereka.
Aku kembali ke kamar. Meneguk kopi yang masih tersisa di gelas. Kemudain teman sekamarku terbangun. Menyerobot kopiku dan meminumnya.

“BRRTT... Jancuuuk...!!!” pekiknya sembari memuntahkan kopi yang baru diseruputnya sedikit itu. Iya kopi itu memang pahit. Kopi tanpa gula. Tapi sekali lagi aku katakan. Kopi itu terasa begitu nikmat di lidahku. Tak perlu gula dari perasan tebu hasil para petani. Kemenangan Munchen malam itu adalah gula bagiku. Suatu substrat yang mengubah sesuatu yang amat sederhana menjadi sebuah kemewahan. Sebuak kenikmatan. Ya inilah ceritaku yang menikmati pertandingan FC Bayern Munchen dalam kesederhanaan. Inilah caraku menikmati kopi hitam tanpa gula.

Tulisan ini dimuat di SuaraFans dan mendapat peringkat ke-3 dalam lomba menulis tersebut.


5 Maret 2014

Donat, Dia, Warna, Manis

Di depanku terdapat tumpukan donat penuh warna, ada yang hitam ditaburi putih, ada yang berbentuk hati dengan taburan meses merah muda, dan beberapa lilin tengah berjuang melawan api yang melahap tubuhnya. Aku memejamkan mata sejenak. Mencoba mengusik hati paling dalam, mengorek keinginan dasar hatiku. Sulit. Hatiku lama merespon. Dia takut, takut kecewa oleh harapannya sendiri.
“Aku berharap dia, mewarna bersama ku,” kataku dalam hati sebagai sebuah harapan sebelum meniup lilin ulang tahun, mata ini juga melihat ke arah seseorang.  Ini adalah harapan yang sangat egois, yang mungkin malah akan melukai lebih dalam.  Aku yakin Tuhan tau maksud kuletakkan tanda koma di dalam doa ku.
Aku melihat  ke dalam tumpukan donat, jauh ke dalam. Aku terpesona. Indah, penuh warna. Ada putih, ada merah, ada kuning, ada merah muda, ada hitam. Seperti sebuah kehidupan. Hitam adalah musibah, kesedihan, bencana. Akan tetapi tanpa hitam untaian warna – warna tadi tidak akan terlihat indah. Beberapa orang begitu mendambakan cinta, merah muda. Bayangkan saja tuhan memberikan sebuah kehidupan penuh cinta, bahagia, selalu merah muda. Apakah itu terlihat indah? Bagiku itu datar, monoton, membosankan.
Terkadang sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi, warna yang kita inginkan tidak muncul. Itu karena tuhan tahu warna yang lebih baik untuk memperindah lukisan hidup kita. Tuhan adalah seorang pelukis, pelukis kehidupan. Merah muda juga memerlukan berapa biru, beberapa merah, beberapa putih, beberapa warna – warna lain, bahkan beberapa hitam untuk benar – benar menjadi sebuah maha karya, lukisan kehidupan yang indah.
Aku jadi melihat kebelakang sejenak, mungkin kalau saat itu aku tidak jatuh dalam kelamnya kesedihan, aku tidak akan sebahagia ini. Kalau tadi pagi ban motor ku tidak bocor, mungkin aku tidak punya kesempatan memanjatkan doa ini. Meskipun tetap kesedihan selalu melanda ketika hitam datang. Jujur, aku baru saja terjatuh ke dalam jurang keterpurukan yang sangat dalam. Gelap. Mimpi – mimpiku bahkan menguap meninggalkan diriku sendiri. Mimpi yang seharusnya menjadi sayapku rontok. Tapi pada akhirnya aku sadar, aku dapat melihat sesuatu yang sebelumnya tidak dapat kulihat dari atas. Siapakah teman sejati, yang mengulurkan tangan membantu penuh senyum, atau yang justru tertawa bahagia melihatku terpuruk. Semua terlihat dengan jelas. Aku bahkan juga mampu untuk kembali melihat senyumnya, senyum kesukaanku sejak lama. Yah, sometimes falling is the best part.
Bisa aku katakan itu adalah hitam, masa laluku hitam. Mungkin hanya sebagian, aku harus melihatnya dari jauh agar terlihat indah, mungkin. Aku jadi ingin menyimpulkan warna masalalu ku. Putih? Hmmmm, atau biru? Apa merah? Ah aku tidak tau, warna apapun itu, yang jelas itu adalah warna gemerlap penuh harta. Lalu, aku juga menjadi penasaran akan warna di masa depanku, lukisan seperti apa yang tuhan buatkan untuk kehidupanku? Ah, biarlah itu tuhan yang memutuskan, yang jelas warna apapun itu, itu masih harus diberi banyak warna. Agar hidupku menjadi sebuah mahakarya. Untuk itulah aku berharap dia, aku berharap manis.
FIUUUHHH

Lilin – lilin itu sekarang bernafas lega setelah diselamatkan dari lumatan api, doa – doaku pun berlari penuh harap kepada tuhan. Menyisakan tumpukan donat untuk menjadi korban para insan kelaparan. Selamat ulang tahun Redo Febri Yanto.