30 April 2013

Homeless to Harvard, an inspired movie.




Yah seperti biasa aku hanyalah orang yang kelebihan waktu. Malam ini pun begitu. Aku menonton sebuah film yang really gave me a punch in my face.
Homeless to Harvard
itulah judul film yang aku tonton malam ini, not sure it's night or early morning. But you know? I'm cried while watching it. Film ini tentang seorang anak yang orang tuanya adalah pengidap AIDS, pecandu, pemabuk dan tinggal di sebuah apartemen buruk. Namanya Liz. Ellizabeth. Nama seorang ratu, yang tak beruntung untuk dilahirkan dari keluarga seperti mereka. Tapi dia tetap mencintai ibunya, dia mengurus ibunya, memandikannya, ketika ibunya pulang dari bar dan mabuk dia yang mengurusnya. Semua dia lakukan hingga suatu saat ibunya meninggal. She hasn't nothing anymore.
Semenjak kepergian orang tuanya dia pergi dari rumah, kakeknya tidak menyukainya, dia tidur di stasiun, makan dari tempat sampah. Semua dilakukanya untuk bertahan hidup. Yah pada akhirnya dia memutuskan untuk sekolah, menempuh high school yang seharusnya 4 tahun menjadi 2 tahun saja. Dan berkat kerja kerasnya dia bisa kuliah di Harvard dengan beasiswa dari New York Times.
Kemudian aku sedikit berfikir, apakah setiap orang harus sukses dalam keadaan yang sama? Apakah setiap cowok harus menjadi insinyur dan setiap wanita harus menjadi dokter? Apakah sukses itu ketika memiliki mobil, apartemen, dan uang melimpah? Itu tidak adil. Anak yang terlahir dari orang tua kaya sudah dapat dikatakan sukses dong? With no work. Sedangkan anak yang terlahir dari orang tua kurang berada? Kalau dijalan yang benar mungkin mereka akan bisa meraih itu, kalau di jalan yang salah? Mereka cuma akan menjadi mayat yang tak di kenal di kolong jembatan.
Bukan karena apa aku menyukai film ini, layaknya aku suka film 3idiots, ini karena ada kemiripan cerita di dalamnya. Yah usaha kami sedikit sama. Liz, Rancho, dan aku memang harus berjuang sedikit lebih banyak dari yang lainya.
Ini bukanlah sebuah keluhan, bukan pula sesuatu yang menarik. Aku hanya ingin berbagi. Aku tau bahwa hasil lah yang diperlukan. Tapi cobalah melihat sebuah proses. Tak ada salahnya untuk mengamati sejenak, bukan? Aku yakin Tuhan juga menilai sesuatu dari usahanya, seberapa beratkah ujian yang didapat selama dia melakukan sesuatu. Lagipula sukses itu tidak jauh, dekat sekali. Sukses itu ada di telinga, kamu hanya perlu cermin untuk dapat menyadarinya.

@dowiliare

14 April 2013

Untung Oksigen Masih Gratis



Bulan Maret belumlah berlalu, tapi sudah banyak sekali kesan menyenangkan dalam tanda kutip di dalamnya. Baru saja aku selesai menelpon ibuku, meminjam HP teman. Yah sudah hampir sebulan HPku rusak. Kangen? Ya kalau dibilang kangen mungkin ini sudah yang stadium akhir. Ingatanku akan wajah orang tuaku bahkan sudah mulai kabur. Sudah sebanyak apa uban di kepala ayah dan ibuku. Sudah sebanyak apa garis–garis keriput di wajah mereka. Seberapa kurus ayah dan ibuku sekarang. Aku tak mampu membayangkan itu. Terakhir kali aku dapat mengecup tangan mereka adalah januari tahun 2012. waktu itu aku masih SMA.
Aku tak mau bilang ini bulan buruk karena masih ada kebahagiaan di dalamnya, walau setetes. Semua berawal ketika ada permasalahan di pemerintah pusat. Aku tak paham apa yang terjadi di sana. Aku hanya merasakan akibatnya, uang beasiswa turun telat. Untuk aku yang hidupnya hanya bergantung dari uang tersebut ya bisa dibilang kalang kabut. Uang di saku sudah sangat sangat tipis. Mungkin makan mewahku harus dikurangi, besok besok tidak perlu pakai tempe lagi, cukup sayur. Es teh juga sepertinya tidak usah, cukup air bening.
Ada satu hari yang sangat sangat aku ingat. Siang itu dengan riangnya aku meninggalkan kampus  MIPA selatan (milan) setelah kuliah usai. Dan demi apa tiba tiba motorku oleng, melirik ke ban belakang dia terlihat cukup menderita mengangkat beban tubuhku. Angin dengan senyum lebar meninggalkan ban belakangku. Dengan terpaksa kali ini aku yang harus berkeringat. Singkat cerita bannya sudah tidak bisa ditambal. Aku juga sulit percaya, bahwa ban karet seperti itu bisa terpotong. Dan parahnya lagi uang terakhir yang aku miliki adalah 15ribu, sedangkan biaya ganti ban adalah 36ribu.
Aku cuma bisa terduduk lesu di sebelah tempat tambal ban, di pertigaan selokan mataram. Uang   tidak punya, HP juga tidak ada. Kalau mau tambal ban, makannya pakai apa? Kalau makan, motornya didorong?
Aku juga tidak yakin kalaupun Maret berlalu aku bakal punya duit, untung oksigen masih gratis.