3 Juli 2015

Peran



Kita terlahir membawa sebuah peran yang telah digariskan, sebagai khalifah, begitulah yang dijelaskan dalam agamaku. Tak ada manusia yang terlahir jahat, tak ada manusia yang terlahir baik, semua terlahir sebagai khalifah. Sebuah peran yang telah diberikan oleh Sang Sutradara. Diberikan. Kita tak bisa memilih, kita hanyalah pemeran.

Selalu ceria semasa kecil, berlari kesana – kemari tanpa peduli kotornya baju. Cukup cerdas untuk beberapa kali memperoleh juara kelas, cukup sadis untuk dapat memimpin beberapa temannya. Waktu berjalan melewati, dia tumbuh menjadi seorang pendiam yang penuh dendam, beberapakali menjadi scapegoat bagi temannya. Tak pernah terlihat marah, karena selalu marah. Akan tetapi di sekitar sanak sedarahnya, dia seorang yang rajin juga sopan.

Begitulah dia. Memainkan sebuah peran yang berbeda di momen yang berbeda. Memainkan peran yang berbeda ketika orang yang dihadapinya berbeda. Dia selalu ceria ketika kecil, meski terdapat beberapa bekas memar di punggungnya. Dia selalu terlihat ramah, tak pernah marah, meski sebenarnya dia sedang marah. Begitulah dia memainkan peran, begitulah dia berbohong.

sumber
Bukan hanya dia, aku, kamu, bahkan mereka, juga berbohong, demi peran yang dimainkan. Kamu dengan make up mu, kamu dengan trik kameramu. Kamu yang anggun di luar, kuat disekitar temanmu, namun cengeng dipangkuan Ibumu. Aku yang pendiam bila kamu tak disekitarku, namun menggila ketika kamu hadir. Mereka yang memuji mu di depanmu, namun menusukmu di hadapan orang lain. Kita semua pembohong, karena kita hanyalah berperan.


“Kamu adalah pembohong yang baik, setidaknya lakukan lah hal yang baik,” ungkap Dazai. Jadi, berbohonglah layaknya seorang Bapak dan Ibu,

“Santaplah tempe itu hingga habis, Nak. Bapak dan ibu mu sudah kenyang,”



Inspired by How To Become Myself.

6 Juni 2015

HyBryd ti papah



Sekali lagi, kota ini memberi sesuatu untuk dikenang, namun kali ini bukanlah kulinernya, bukanlah suasananya, bukan juga panoramanya. Yang terkenang kali ini adalah pendatang. Pendatang yang bahkan tak ku kenal sebelumnya, kini menjadi terkenang.
Lebih dua tahun sudah, saat aku berjumpa dengannya di depan sebuah kampus negri di kota ini berkat tuntunan seseorang. Usang, ingatan itu sudah semakin using, bagaimana dengan lucunya aku yang lebih muda dipanggilnya “mas”. Siapa yang tak tersipu dipanggil mas, siapa yang tak malu disapa dengan santunnya. Ingatanku tak begitu pasti lagi soal kejadian waktu itu, baju yang dipakainya, bawaan yang dibawanya, yang kuingat adalah tujuannya datang ke kota ini. Akan berjuang masuk ke universitas negri kota ini, begitulah titahnya, aku tak pernah tau jika mungkin dia menyembunyikan niat lain. Niat jalan – jalan mungkin, ya justru sebelum ujian dia mau aku ajak mengelilingi sebagian jalanan kota ini yang juga masih terlalu asing bagiku. Anak mana sih yang datang ke kota ini tanpa ada niat jalan – jalan, tanpa ada niat foto – foto?
Suasana museum yang sepi tepatlah sebagai gambaran suasana diantara kita, aku pendiam dia pun pendiam. Yang mampu mencairkan suasana mungkin kamera yang dibawanya, beberapa kali dia minta difoto oleh amatir sepertiku. Ah, kenapa pertemuan singkat tak sampai sehari bisa begini berbekas, kenapa pertemuan minim pembicaraan ini mampu berkesan? Hanya pertanyaan – pertanyaan tanpa jawaban yang kemudian muncul satu – persatu.

       Dia adalah orang yang baik, beberapa temanku yang mengenalnya pun berkata demikian. Tentu berbalik 180 derajat denganku yang “bandel”. Sepertinya 130 derajat lebih tepat, untukku yang tak begitu bandel. Hahaha. Yah tapi begitulah alam bekerja, begitulah Tuhan menciptakannya. Kutub magnet yang berlawanan akan tarik menarik. Tentu tarik menarik sendiri memiliki banyak presepsi, bisa saling menarik kebencian, bisa juga saling menarik rasa hormat. Semoga dia dapat istiqomah, juga senantiasa bahagia. 
Kamu penasaran dengan dia? Ingin tahu namanya? Ah, bukankah di paragraf ke-2 dan ke-3 aku sudah memampang namanya dengan besar! Layaknya kapital.




Tulisan setengah jadi Januari lalu.  

15 Desember 2014

Terkadang, Impian Membunuh Tuannya

Mimpi. Bolehkah aku menyebut mimpi sebuah “ketidakjelasan” ? Yah, pada faktanya aku tak perlu izinmu untu melakukannya. Daedalus dan anaknya yang terkurung dalam labirin gelap, selalu memimpikan langit yang luas, memimpikan sebuah kebebasan. Dengan usaha yang tidak mudah, mereka membangun sayap mereka, dari bulu – bulu yang mereka “pinjam” dari burung  yang kemudian disatukan dengan lilin. Pada akhirnya mereka dapat bebas, dapat menggapai langit luas yang selalu menjadi impian mereka. Namun apa yang terjadi setelahnya? Ya, Icarus tidaklah puas dengan impian yang telah diraihnya, dia menginginkan sesuatu yang lebih, yang pada akhirnya membuat sayapnya terbakar matahari dan tubuhnya ditelan lautan.
Sumber : Glory of Icarus
Dalam berbagai lukisan maupun puisi, Icarus digambarkan sebagai simbol keberanian, keberanian dalam menyongsong hal baru. Luar biasa, seorang manusia yang mati “dibunuh” oleh mimpinya dijadikan sebuah simbol keberanian. Berminatkah kamu mengikuti jejak Icarus?
Sewaktu aku duduk di bangku kelas 5 Sd, seorang guru bertanya apakah impianku. Kemudian dengan gampangnya aku menjawab, aku ingin jadi aktor. Jawaban yang bisa dibilang ingin mendapatkan kesan keren diantara teman – teman. Atau juga bisa dibilang jawaban yang muncul akibat salah didik oleh para guru, guru yang hanya sekedar menanamkan bahwa impian adalah sebuah profesi. “Kalau udah besar mau jadi apa?” “Jadi polisi ya, biar bisa nangkep banyak penjahat”.
Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah, pelajaran yang dianggap sangat sulit adalah Fisika. Dan saat itu juga aku memutuskan untuk hebat dalam pelajaran Fisika, aku ingin menjadi ahli di bidang yang banyak orang tak bisa. Aku ingin dianggap hebat oleh teman – temanku, mungkin. Kemudian impianku kian meninggi, bermimpi mendapat medali emas OSN, bakhan olimpiade internasional. Hampir kemanapun aku pergi, aku selalu membawa sebuah buku Fisika dan sebuah pensil. Pada akhirnya mimpi – mimpi itu berguguran, aku hanya mampu juara di kabupaten, tanpa mampu berbuat banyak di profinsi. Aku gagal keren, dan sekarang aku berfikir, saat itu mungkin aku akan terlihat lebih keren kalau sering berbagi ilmu dengan teman – temanku, tak hanya sibuk sendiri, terbang sendiri.

Dunia terus berputar, waktu terus berjalan. Aku masih belum mampu menemukan impianku. Beberapa waktu lalu saat aku membaca komik Yotsubo&! , aku memimpikan menjadi ayah Yotsubo. Yang bekerja hanya dikamar dan menghabiskan sepanjang hari bersama anak tercinta, bersepeda keliling komplek bersama, masak bersama, memancing bersama. Di lain waktu, ketika aku tengah melakukan kerja part-time aku melihat kedai Pie di sebelah tempatku bekerja adalah kedai yang dimiliki sepasang kekasih. Kemudian saat itu aku pun bermimpi ingin memiliki kedai seperti itu,  untuk kemudian menghabiskan seluruh hidupku di kedai itu bersama istriku. Aku yang bagian bar, dia yang bagian cook. Aku membuat minum, dia membuat cupcake. Ah, kenapa aku malah tebar kode begini? Sudahlah namanya juga bermimpi.

 Semoga aku tahu batas kekuatan lilin yang menyatukan sayap – sayapku,aku tak ingin bulu sayapku jatuh berhamburan, aku tak ingin ditelan lautan, aku tak ingin seperti Icarus. 

26 September 2014

Ada Pelajaran di Balik Getah

Waktu terasa bergulir begitu cepat, bergulung - gulung meninggalkan aku dengan laptop bututku terkurung di kamar gelap di ujung rumah. Waktu seakan tanpa permisi hanya berlalu begitu saja, atau mungkin waktu sudah menyapa hanya aku saja yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Tenggelam dalam semangat memenangkan trofi Liga Champions dalam game Football Manager, terkadang juga hanyut dalam arus persahabatan Natsu dan kawan – kawannya di Guild Fairy Tail. Aku tenggelam dalam duniaku, dalam aliran waktuku sendiri, sehingga tanpa dirasa dunia luar telah begitu banyak berubah. Dari kelangkaan BBM, hingga kelangkaan gas 3 kg, bahkan tentang RUU Pilkada, semua berlalu tanpa sempat aku menyadari. Informasi hanya masuk kepadaku melalui obrolan beberapa bapak - bapak yang hampir selalu nongkrong di angkringan Pak Mamad di selokan mataram. Layaknya sekarang ini, aku mencoba menyapa dunia luar, mencoba kembali mengikuti aliran waktu orang –orang, aku tengah duduk tepat dipinggir selokan, memandangi pegawai – pegawai yang tengah mengerjakan jalan baru, sembari menikmati beberapa nasi kucing dan beberapa tusuk sate usus, sesekali juga menyeruput es tape yang tentu sangat nikmat.

Aku ingat sekali beberapa waktu lalu, tepat disaat kelangkaan BBM terjadi di Yogyakarta, atau bahkan Indonesia. Ada sebuah peristiwa yang sangat menghebohkan Indonesia saat itu. Ceritanya sederhana, hanya karena kesalahpahaman seorang gadis -sebut saja Bunga- yang ingin membeli bensin pertamax di salah satu pom bensin di Yogyakarta, tetapi Bunga tidak tahu bahwa dia menyerobot antrian, Bunga mengira antrian panjang di pom bensin tersebut adalah untuk mendapatkan bensin premium dan Bunga tidak tahu bahwa ternyata antrian panjang itu juga untuk mendapatkan pertamax. Namun kemudian yang membuat semua terkesan lebih heboh adalah ungkapan nya di media sosial, yang bisa dibilang melecehkan Yogyakarta.

Aku juga ingat sekali waktu itu, aku tengah duduk seperti ini, yang membedakan, disebelahku ada 3 bapak - bapak yang juga tengah menikmati minuman mereka. Mereka berbicara banyak hal, mulai dari pertandingan bola, hingga bisnis burung mereka, hingga pada akhirnya mereka tertarik membicarakan kasus Bunga yang saat itu tengah hangat – hangat nya.

"Jebule sekolah duwor - duwor urung tentu iso dadi wong apik,"
(Ternyata sekolah tinggi – tinggi belum tentu bias jadi orang baik)
"Lha yo pancen tenan lek, wong pinter neng goblok,"
(Betul itu mas, pinter tapi juga bodoh)
"Pinter neng goblok pie maksud mu?"
(Pinter tapi bodoh itu maksudmu apa?)
"Lha pinter, wong jenenge cah UGM, neng jebule kelakuane goblok,"
(Yap inter orang namanya kuliah di UGM, tapi ternyata kelakuannya kayak orang bodoh)
"Wah bener kui, paling ugm mek ngajari ilmu umum, neng ora ngajari tata krama, duh pie nasib Indonesia ngarepe iki,"
(Weh benar itu, paling UGM hanya mengajarkan ilmu umum, tetapi tidak mengajarkan tata krana, duh gimana nasib Indonesia kedepannya ini)

Begitulah kira – kira percakapan yang terjadi. Aku yang kebetulan mahasiswa UGM dan kebetulan duduk di sebelah mereka bertiga hanya mampu menelan ludah. Hilang sudah rasa es tape yang biasanya nikmat, kini hambar. Rasanya ingin mendebat mereka, namun ribuan kata - kata yang tersusun seolah - olah ikut tertelan bersama es tape yang ku minum.
Aku hanya merasa kok tak pantas semua unsur UGM disalahkan, hanya karena kelakuan Bunga. Banyak mahasiswa baik - baik yang sering memperjuangkan hak - hak rakyat juga, ada juga mahasiswa yang meski jarang kuliah-sebut saja aku- namun memiliki perilaku baik. Rasanya semua unsur itu terhapus, semua menanggung akibat perbuatan si Bunga. Kepercayaan masyarakat luntur kepada UGM, mungkin. Hal ini tak cuma terdengar di angkringan, terkadang di warung burjo, terkadang warung - warung prasmanan juga. 
       Mungkin inilah rasa sebenarnya dari peribahasa GUPAK PULUTE ORA MANGAN NANGKANE. Peribahasa ini dapat diartikan tentang kesialan seseorang yang padahal tidak ikut menikmati sesuatu, tapi menerima resiko ataupun akibat. Bunga panen nangka, tentu Bunga terkenal dimana – mana, banyak masuk stasiun TV-meski bukan niat awalnya-, kalaupun dia terkena getah itu wajar karena Bunga yang memanen dan mungin memakan nangkanya. Akan tetapi aku yang biasanya hanya berdiam diri di dalam kamar juga tiba - tiba terkena getah, getah dari nangka yang dipanen oleh si Bunga. 

       Tapi tahukah bahwa dibalik "getah" itu juga terselip sebuah pelajaran berharga? Bukankah sebaik – baik manusia adalah manusia yang mampu bermanfaat untuk banyak orang? Ataupun minimal lingkungannya? Nah sudah seharusnya kita -yang ingin menjadi manusia baik- berusaha untuk memberikan manfaat untuk orang lain. Kalaupun tidak bisa, setidaknya tidak merepotkan atau menyusahkan orang lain, tidak menempel getah kesana kemari. Aku juga belajar, meskipun aku belum mampu memberi manfaat pada orang lain, setidaknya aku tak ingin menysahkan orang lain. Tetapi aku juga mau mencoba untuk bermanfaat untuk orang lain, aku mau masuk ke dalam aliran waktu bersama orang - orang. Baik di depan laptop butut ku, maupun diluar aliran waktuku. Semoga tulisan ini bermanfaat. 



21 Agustus 2014

Video Dewasa? Ah, Rumor!

      Ceritanya simbah sakit, saya kebagian jaga malem. Kerena kedinginan dan kebosanan saya menggoda mbak - mbak perawat. Eh, maksud saya pergi ke Mushola untuk tilawah Al-Quran, hmmm ralat sebenernya mainan perawat, duh salah ketik, mainan laptop yang bener. Dan inilah hasil mainannya, sang buah hati(?) alias sebuah video cukup kece. Kalau ada kemiripan rupa, nama, baju, dan peristiwa berarti anda sedang sial. Sekian!


       Jadi ini wujud videonya Click Here .

16 Agustus 2014

Sajak Rindu

Aku merindukanmu
Minggu malam ku terbesit tentangmu
Merah putih kebanggaanmu
Kamu membawaku ke masa lampau
Masa yang putih juga abu abu
Masa putih biru yang terasa haru
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Merindukan mu yang membuatku berdiri malu
Kamu yang membuatku menyanyikan lagu
Berkobar layaknya bandung waktu itu
Syahdu penuh doa untuk Ibu
Dari waktu ke waktu
Kamu membuatku melakukan ritual baru
Membaca perkamen usang dari masa lalu
Perkamen rancangan pemimpin negara baru
Aku lelah saat itu
Berdiri malu bersamamu
Kadang aku membencimu
Aku membencimu
Merenggut awal hari dalam seminggu
Kini
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Meniupkan semangat untuk maju
Membakar api untuk berkumpul menjadi satu
Meniupkan semangat menggebu - gebu
Menghargai orang - orang masa lalu
Aku mulai merindukanmu
Dirimu yang membuatku mencintai sang Ibu
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Kamu tak pernah lagi hadir dalam hari - hariku
Minggu malam tak pernah aku terfikir tentangmu
Kamu tau?
Kini aku hanyalah mahasiswa yang layu
Yang mulai melupakan sang Ibu
Kini dia hanyalah tikus berbaju
Rakus memakan daging sang Ibu
Kini mereka saling beradu
Bengis berebut harta warisan sang Ibu
Membuat Ibu menangis tersedu sedu
Aku mulai merindukanmu

Aku merindukanmu
Mengisi setiap senin pagiku

Merayakan setiap ulang tahun Ibu

Aku, Si Peserta Upacara.

14 Agustus 2014

Curhatan Saya !

Sehat itu murah, menjaga kesehatan itu mudah. Akan tetapi banyak yang mengingkari, sampai pada akhirnya justru sehat itu terasa mahal ! Apalagi ketika sudah jatuh sakit, obat - obatan adalah sarana yang mahal, yang sangat mencekik bagi kaum golongan menengah ke bawah. Bagaimana hanya bercuap - cuap selama 19 menit bersama dokter(spesialis) mengeluarkan biaya ratusan ribu, hanya bercuap - cuap! Padahal kesehatan itu adalah hak segala bangsa oleh sebab itu(?)... Jangan jerat saya dengan hukum penyelewengan UUD ya... :p

Selain harga obat - obatan yang selangit, dokter - dokter di wilayah pelosok - pelosok masih lah sangat minim. Perlu perjalanan hingga 1 jam untuk sekedar berobat. Bayangkan apabila tiba - tiba seseorang terkena serangan jantung, patah kaki, patah kepala, dan harus menempuh 1 jam untuk menemui dokter. Saya yakin arwah orang tersebut sudah sempat bermain poker di akhirat sana, barulah jasad nya sampai pada dokter(hanya untuk yang percaya kehidupan setelah kematian). Menurut saya inilah salah satu faktor yang menyebabkan BANYAK nya kasus bunuh diri di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta. Salah satu. Banyak orang yang lebih memilih mati ketimbang sakit maag dan darah tinggi berkepanjangan. Meski banyak faktor lain yang mempengaruhi juga, kadang merasa tidak dipedulikan anak - anaknya yang jauh diperantauan, merasa seolah - olah dunia sudah tak menginginkannya hidup lagi, maka banyak yang memutuskan gantung diri. Gunung kidul memang sebagian tanah nya berbatu, bisa dibilang kurang subur, tetapi sebenarnya memiliki wisata alam yang luar biasa indah.


Hal unik lainnya adalah, kebanyakan warga di pelosok daerah kesulitan dalam membaca tulisan. Mungkin buta huruf, mungkin juga kondisi mata yang sudah tak memungkinkan untuk membaca. Dengan kondisi seperti itu, apoteker(atau apalah yang memberikan obat ke pasien) memberikan keterangan pada obat dengan tulisan, tulisan yang sangat kecil, yang mustahil untuk dibaca. Bahkan saya pernah dipanggil ke RT lain hanya untuk membacakan tulisan yang tertera di obat, 3xsehari dan kawan - kawannya. Memang di Gunung Kidul jumlah pemuda nya bisa dibilang sedikit, banyak yang merantau. Seharusnya dunia kedokteran berfikir kreatif, bukan dengan tulisan tapi dengan warna bungkusnya. Merah untuk sebelum makan, hijau untuk sesudah makan, putih saat makan(nasi). Lalu bagaimana yang buta warna mas? Wah, iya, tak boleh ada diskriminasi kan, jadi gunakan warna yang dapat dibedakan oleh penderita buta warna. Lalu untuk yang benar - benar buta bagaimana? Hmmm. Sepertinya juga harus ditambahkan tulisan dengan huruf braile(bener gak sih, huruf yang timbul - timbul gitu) pada pembungkus obat nya. Lalu gimana buat yang buta, dan tak punya tangan juga? Tak mampu meraba - raba? Aah, syudah lah, saya nyerah. Pokoknya apoteker atau dokter, lebih telaten lah dalam menjelaskan penggunaan obat pada orang tua atau pasien lanjut usia, sampai pasien paham, tak salah minum obat, pasien sehat. Jadilah pahlawan kesehatan dunia, jangan dirimu mengejar uang, kejarlah kebaikan. Calon dokter juga loh, jangan hanya memikirkan karir sendiri, insyallah calon dokter yang baik dimudahkan jodohnya. Hidup Indonesia! Indonesia sehat!!! Saya cuma curhat!!!